Cari tulisan berdasar topik

Sabtu, 17 Juli 2021


-
Antologi puisi "Mengakrabi Sunyi" hanya sebuah buku layaknya buku-buku lain yang dicetak.

Seperti antologi cerpen Jejak-jejak Kota Kecil (JJKK. 2016), buku ini dicetak dengan modal awal. Meskipun dahulu juga banyak alternatif nyetak dengan modal kecil sistem PO dan semacamnya.

Namun, ini adalah "buku komunitas", perlakuannya harus beda jika dibanding buku individu. Antologi JJKK dicetak 100 eksemplar dan ludes begitu cepat. Antologi Mengakrabi Sunyi dicetak 250 eks dan sampai saat ini masih tersisa beberapa eksemplar.

Banyak yang menyebut antologi Mengakrabi Sunyi adalah produk rugi. Ya, jika dihitung dari jumlah penjualan. Namun sebagai "media komunikasi" sesungguhnya sangat berhasil.

Karena itu kita perlu ambil resiko mengeluarkan modal awal via pinjaman. Kita butuh dana 3,5 juta. Namanya pinjaman pasti nanti dikembalikan, bukan?

Lalu pinjamnya dari mana? Ya dari anggota FLP sendiri. Kita sebutnya investasi. Sekali lagi ini sangat beresiko, bagaimana jika penjualan tidak sesuai target? Siapa yang mau mengembalikan pinjamannya?

Ternyata benar. Dari segi penjualan, antologi Mengakrabi Sunyi jauh dari target. Bahkan bisa disebut rugi.

Namun, dana pinjaman sudah dikembalikan semua. Ya, dari sini mungkin banyak yang bingung, kok bisa?

Cerita pahit getir Mengakrabi Sunyi

Tanggal launching antologi Mengakrabi Sunyi sudah ditentukan ketika buku belum naik cetak.

Saya sudah ketar-ketir. Percetakan langganan selama ini tidak bisa dipastikan berapa lama naskah selesai cetak dan dikirim. Bisa seminggu, bisa sebulan, tergantung antrian.

Ternyata benar, saat launching, buku belum datang. Semua menanti informasi dengan cemas, padahal para pemesan buku sudah hadir dalam launching tersebut.

Beban jadi dobel. Karena urusan cetak dan keuangan saya yang pegang. Ini belum termasuk bagaimana nantinya jika target penjualan tidak terpenuhi?

Betapa serba salah dan sulitnya berada di posisi saat itu, meski semua tampak baik-baik saja.

Harga buku sangat murah

Sebenarnya, harga buku Mengakrabi Sunyi terbilang murah. Karena jumlah cetaknya 250 eksemplar, maka kita dapat harga murah: Rp14.000 per eksemplar. Dijual Rp35.000 ke agen dan dipasaran Rp45.000. Cukup terjangkau, bukan?

Padahal, kualitasnya tak kalah sama buku Filosofi Kopi karya Dee Lestari.

Meski demikian, target penjualan tidak terpenuhi. Seingat saya, baru terpenuhi sekitar 50% dari kebutuhan pengembalian modal.

Untungnya para pemberi pinjaman tidak ada yang protes, karena pemberi pinjaman sebagian juga penulis buku pada antologi ini.

Sampai kepengurusan berganti, target penjualan juga belum terpenuhi. Satu tahun lewat. Wah bagaimana ini?

Beberapa buku dibagikan gratis. Dari 250 eksemplar, target dijual hanya 200. 50 eksemplar dibagi-bagi ke endorser terutama. Namun faktanya tak kurang dari 100 buku dibagikan secara cuma-cuma.

Diplomasi buku pun berjalan

Salah satu pengurus kala itu mengkritik kenapa begitu royalnya bagi-bagi buku. Wajar karena ia menghitung nilai jual.

Namun kita lupa jika komunikasi itu perlu dan perlu juga ada "oleh-olehnya".

Sayangnya, sulit untuk menjelaskan ini, hal yang tak mudah dijelaskan ke banyak orang, termasuk pengurus.

Sehingga kadang muncul penyesalan kenapa dulu tidak diterbitkan saja lewat paket-paket P.O?

Itu memang bisa jadi alternatif, namun jika begitu mana mungkin bisa bagi-bagi buku?

Kita bisa kasih buku ke Perpustakaan Bung Karno, ke Perpustakaan Kota, ke seniman, tokoh literasi, pustakawan, pegiat hingga pejabat negara.

Apa karena buku tersebut?

Karena penjualan buku tak sesuai target, sementara itu berpotensi menjadi beban kepengurusan baru, maka sebaiknya lekas diselesaikan. Cari dana lewat jalan lain.

Apalagi, sebagai koordinator penerbitan dan yang mengurus uang, bebannya berlipat. Bisa jadi bad history.

Singkat cerita, kekurangan pengembalian buku tersebut bisa ditutup oleh "bantuan relasi", agak riskan saya menjelaskannya, tetapi ya itulah kenyataannya.

Kita menjalankan suatu program dan dari program itu keluar anggaran yang digunakan untuk menutupi keuangan buku.

Meski sebenarnya saya berharap kekurangan bisa ditutupi oleh penjualan buku, namun rasanya itu sulit, atau butuh waktu lama.

Karena itu, saya lebih suka mengartikan buku itu sebagai bentuk komunikasi ketimbang produk transaksi jual-beli.

Meski barangkali penerbitan Mengakrabi Sunyi menimbulkan trauma tersendiri bagi sebagian pengurus, sehingga penerbitan selanjutnya lebih memilih P.O.

Namun itu tak masalah, karena relasi sudah berjalan. Jika kita ukur dari itu, sebenarnya kita "untung besar" dari Mengakrabi Sunyi.

Sepanjang 2018 adalah tahun "komunikasi" paling intensif, yang sebagian bisa kita petik sekarang ini.

Saat keuangan buku akhirnya beres, saya bersyukur sambil membatin: sisa buku bisa bebas dibagi-bagikan dong?

Mengakrabi Sunyi punya banyak cerita bagi saya sebagai orang yang mengurus percetakannya. 

Belum termasuk cerita dari mereka yang sibuk mengkompilasi naskah, mengedit, membuat ilustrasi, layout, desain cover, book teaser dan sebagainya.

Buku ini sesungguhnya digarap dengan sangat serius. Tidak asal terbit. Meski butuh proses hampir setahun. 

Pemberi sambutan/endors dan pengantarnya pun juga tidak sembarang, misal Prolog ditulis Tengsoe Tjahjono.

Mengakrabi Sunyi adalah buku yang disengkuyung bersama dan kini memberikan energi cukup besar bagi komunitas. []

Blitar, 17 Juli 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Minggu, 11 Juli 2021


Sejak 2019, saya terlibat dalam beragam kegiatan yang sebagian orang menyebutnya kampanye kesetaraan gender, feminisme, dan sebagainya.

Respon itu datang dari beberapa teman, yang basicly memang sangat kontra dengan isu di atas.

Tidak hanya saya, ternyata teman-teman lain yang terlibat beberapa juga mendapatkan pertanyaan serupa, bahkan dalam internal kami ada yang merasa dirinya dianggap melawan pakem agama.

Hmm... ini sangat menggelisahkan dan ingin langsung dijawab. Namun itu tidak mungkin satu per satu bukan?

Maka, konten kali ini khusus saya buat untuk menjawab pertanyaan dan (mungkin) kesalahpahaman selama ini.

1. Aktivis Gender?

Jawab :
Sebenarnya, saya tidak menolak disebut aktivis gender. Namun sebutan itu terlalu tinggi untuk kerja-kerja kecil yang saya lakukan.

Saya jelaskan dulu, kegiatan saya yang kerap disebut aktivis gender itu adalah fasilitasi dari YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan).

Pada bulan Maret 2019 YKP mengadakan pelatihan mengundang unsur pemuda minimal usia 21 tahun. Saya ikut sebagai peserta dan setelah itulah terlibat kegiatan yang merupakan program dari YKP.

YKP sendiri dalam undangannya saat meminta ucapan selamat milad ke-20 menyebut saya sebagai aktivis peduli perempuan dan anak, bukan gender.

Memang salah satu materi yang dibahas dalam pelatihan adalah terkait seks, seksualitas dan gender.

Namun topik lebih dipertajam ke isu kesehatan reproduksi atau HKSR (Hak Kesehatan Seksual Reproduksi). Saya sendiri baru tahu istilah itu ya ketika ikut menjalankan program YKP.

2. Male feminist

Jawab :
Jawaban hampir sama seperti di atas. Setahu saya julukan male feminist itu diberikan pada Rocky Gerung.

Dan itu bukan julukan yang sembarangan.

3. Mendukung Feminisme dan Kesetaraan Gender?

Jawab :
Feminisme adalah isme, begitupun konsep kesetaraan gender sebagai sebuah perspektif.

Perspektif bisa dipakai dalam melihat situasi masyarakat. Jadi anda pun bisa memakai perspektif itu, bisa tidak.

4. Menolak perempuan jadi IRT

Jawab :
Tidak benar. Bagi orang yang kurang memahami kesetaraan gender, selalu menganggap bahwa ini upaya menyaingi laki-laki.

Padahal, perspektif kesetaraan gender tidak melarang perempuan jadi Ibu Rumah Tangga, selama itu adalah pilihan dan bukan karena "pemaksaan sosial".

5. Mendukung LGBT?

Jawab :
Ini seringkali muncul bahkan dalam sebuah sosialisasi itu sendiri.

Memang, dalam kajian seksualitas adalah istilah ekspresi dan orientasi seksual. Orientasi seksual tentu saja membahas varian yang kita sebut LGBT/LGBTQ/LGBTQI.

Mendukung tak mendukung LGBTQI adalah fenomena yang bisa kita temui di realitas. Anda pasti pernah bertemu waria misalnya. Lalu, mau mendukung atau tidak mendukung toh tetap ada, bukan?

LGBT sebagai sebuah fakta, dan dukung mendukung adalah sebuah pendapat. Sementara, saya tidak (atau belum) berpendapat soal itu.

6. Menolak pernikahan anak?

Jawab :
Bukan saya yang menolak, tapi negara lewat UU No. 16 tahun 2019. Saya hanya ikut menyosialisasikan.

7. Meskipun agama membolehkan misal lewat nikah sirri?

Jawab :
Ya terserah saja kalau mau tetap menikah. Itu bukan urusan kami. Namun kami hanya menyampaikan soal hukum yang berlaku, kesehatan reproduksi dan tak kalah penting adalah kesiapan mental.

8. Menghalangi anak nikah?

Jawab :
Tidak benar.

Memang, salah satu kemungkinan yang dilakukan adalah advokasi, ini untuk mereka yang mengalami KTD (kehamilan yang tak diinginkan), khususnya yang mengalami kekerasan seksual.

Karena faktor malu dengan masyarakat dan lain sebagainya, kadang korban harus dinikahkan dengan pelaku, yang ini tentu tidak baik bagi si korban yang sudah mengalami kekerasan fisik dan harus menikah dengan orang yang tak diharapkan.

Namun itupun terjadi, biasanya dalam kegiatan sosialisasi di masyarakat. Kami belum pernah melakukan advokasi sejauh itu.

9. Sosialisasi harusnya sama anak-anak yang rentan

Jawab :
Kami pun juga melakukan itu. Akan tetapi, jangan hanya bertindak responsif, namun juga preventif.

Anda tau begitu sulitnya menangani kasus yang sudah terlanjur terjadi. Misal, KTD.

Langkah apa yang bisa kami perbuat ketika keluarga sudah mengambil keputusan? Mana mungkin kami mencampuri urusan keluarga?

Maka langkah pencegahan itu yang bisa dilakukan, yaitu pada kelompok remaja, yang selama ini dianggap kelompok remaja pilihan di sekolah atau desa.

Pada akhirnya, pencegahan perkawinan usia anak lebih efektif jika dicegah dari kelompok mereka sendiri lewat pemahaman yang komprehensip.

Ya, katakanlah remaja pilihan, yang orang menganggap mereka udah tak perlu disosialisasi. Bukankah mereka bisa menjadi role model dan inspirasi bagi banyak anak lainnya? Maka bekal pemahaman soal kespro sangat penting bagi mereka.

10. Didanai luar negeri, jadi antek asing

Jawab :
Beberapa masih alergi dengan funding dari luar negeri. Padahal, sebagai sebuah filantropi itu hal biasa.

Lembaga negara saja banyak yang didukung luar negeri, sebutlah USAID di bidang pendidikan.

Lagipula, kalian kira Youtuber kaya raya itu kan juga dapat profit sharing dari Youtube sebagai platform luar negeri. Belum lagi TikTok dll.

Project negara juga banyak dari investasi asing. Ya sebutlah ini salah satu project SDM.

Funding itu menyesuaikan kebutuhan sebagaimana hirarki kebutuhan Maslow. Jika funding membutuhkan pemenuhan fisiologis seperti makan dan minum seperti di negara-negara konflik, hal itulah yang akan dilakukan.

Namun funding lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan di atasnya seperti rasa aman, penghargaan dan ruang aktualisasi. Artinya funding ini lebih diarahkan pada pembangunan SDM.

Sementara 10 poin ini dulu yang bisa saya tanggapi. Terima kasih sudah membaca. Salam.

Selasa, 15 Juni 2021

Pertemuan mingguan FLP Blitar sudah berlangsung sejak bulan Juli 2008, bahkan ketika FLP Blitar belum diresmikan secara formal. Itu berarti, sudah lewat satu dasawarsa.

Awalnya, pertemuan digelar hari Jumat. Lokasinya, kadang di serambi Masjid Syuhada' Haji, kadang di Perpustakaan Manca Kebonrojo. 

Aku yang kala itu masih kelas XI Aliyah, berangkat dari sekolah dengan beberapa teman. Seingetku ada 4 orang teman dari sekolah. Kami masih berseragam.

Setelah diresmikan pada 31 Agustus 2008, entah mulai kapan tepatnya, pertemuan dialihkan hari Ahad di Selasar Perpustakaan Bung Karno. Mungkin karena banyaknya pendaftar baru. Pertemuan yang biasanya siang juga berganti pagi.

Setelah itu, sepertinya pertemuan tetap hari Ahad, sampai aku pindah ke Malang selama tujuh tahun dan tidak lagi aktif, hanya sekali dalam kurun waktu tujuh tahun itu aku datang ke acara FLP Blitar sebagai moderator acara di Unisba.

##

Masuk tahun 2015, pertemuan mingguan kembali digelar, meski segelintir orang yang datang. Awalnya hari Jumat juga, lalu pindah hari Ahad, sampai sekarang.

Dari 2015-2016, pertemuan diisi bedah karya yang diselingi materi. Ketika ada project antologi cerpen, karya yang dibedah adalah cerpen yang akan diterbitkan menjadi antologi.

Konsep rutinan sedikit diperbaharui pada 2017 dan seterusnya, karena banyaknya anggota baru. Mulai dibuka materi menulis, dan berikutnya kelas-kelas. Suasananya jadi sedikit formal.

Bayangkan, pertemuan mingguan yang awalnya semacam nongkrong biasa membahas karya penulis terkemuka, atau ruang sharing dari karya yang dibuat antar anggota, berubah menjadi forum belajar semi formal.

Namun itu karena kebutuhan organisasi, sebab menyesuaikan anggota, ada yang sudah biasa berkarya ada yang masih mau mulai.

Selain itu, pertemuan yang awalnya hanya sekali dalam seminggu, menjadi dua kali bahkan lebih. Karena harus bertemu untuk khusus membahas organisasi, atau bertemu per kelas masing-masing.

Bayangkan, FLP Blitar yang mulanya semacam komunitas hobi, akhirnya berubah menjadi organisasi formal dengan beragam agenda, terutama ketika FLP Jatim mulai aktif. FYI, awal 2015 saat FLP Blitar kembali aktif, FLP Jatim dalam kondisi vakum.

Sekarang, selain banyak agenda internal yang harus diurusi, dengan struktur yang lebih padat, kadang juga dituntut untuk mengikuti agenda dari FLP tingkat Provinsi dan Nasional. Sangat padat, bukan?

Akhirnya, mengelola FLP Blitar sekarang tidak lagi sekadar mengelola komunitas hobi, namun juga organisasi formal dengan segala urusan strukturalnya.

Tradisi baik yang perlu dilestarikan

Pertemuan mingguan adalah tradisi baik, bahkan saking lamanya berkecimpung di FLP Blitar, tiap hari Ahad aku selalu terpikir rutinan FLP Blitar. Anda bayangkan, sejak 2015 hingga sekarang. Sudah ratusan kali rutinan digelar, otomatis tersistem dalam jadwal harian.

Hari Ahad seperti "pertemuan paten" untuk FLP Blitar. Pertemuan lain diluar hari itu, tak banyak berkesan. Setidaknya, dalam tujuh hari ada satu hari khusus untuk belajar menulis, itupun paling hanya 2-3 jam.

Jika seminggu ada 168 jam. Cukup menyisihkan 3 jam untuk FLP Blitar, masih tersisa 165 jam untuk aktivitas lainnya. Sebenarnya tidak sulit, hanya soal prioritas dan kesungguhan.

Tradisi bertemu, membahas suatu ilmu/skill, berbagi pengetahuan adalah tradisi baik yang perlu dilestarikan.

Hiburan akhir pekan

Pertemuan mingguan seperti hiburan akhir pekan, sudah bukan lagi tuntutan. Harusnya memang begitu.

Kadang-kadang aku menyarankan ke suatu kafe atau tempat nongkrong yang representatif. Hedon sekali ya? Ah tidak juga, toh kita paling hanya memesan segelas minuman dan kadang semangkok snack. Anggap saja kompensasi dari hiburan.

Lagipula, yang kita bahas adalah hal bermanfaat, bukan dugem atau karaoke plus plus. Dengan suasana kafe yang informal, bahkan dengan view atau desain lokasi yang menarik, membuat obrolan bisa lebih asyik.

Dalam pertemuan rutin itu, banyak yang dipelajari, tidak saja materi kepenulisan. Ada yang belajar jadi MC, Moderator, kultum, notulen dan narasumber. Ada praktek setelahnya. Entah seberapa manfaat yang sudah berlangsung sejak rutinan digelar.

Ada karya-karya diciptakan, dibahas, dikomentari. Jangan lupa juga, ada passion yang terwadahi, ada ruang untuk beraktualisasi, yang menurut Abraham Maslow, dalam hierarchy of needs, ruang berkarya atau aktualisasi adalah kebutuhan dasar kelima jika orang ingin berkembang.

Artinya, manusia butuh bertemu dengan orang lain dalam suatu wadah yang saling menghargai ide, karya dan intelektualitasnya. []

Blitar, 15 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Sabtu, 05 Juni 2021


Pertama naik Kereta Api saat Aliyah, mungkin sekitaran tahun 2008. Rute pertama tentu saja ke Malang, untuk jalan-jalan di hari Minggu.

Tiketnya murah, seingatku Rp4.000. Tiket bisa dibeli langsung di loket, tanpa batasan kuota. Ya, jika beruntung bisa dapat tempat duduk, jika tidak ya harus berdiri, atau duduk lesehan santuy di antara pintu-pintu gerbong.

Karena dulu berangkat subuh, masih tersedia banyak tempat duduk. Baru masuk stasiun Kepanjen, penumpang sudah penuh, banyak yang berdiri, berjejalan, dan harus berbagi jalan dengan penjual asongan atau pengamen.

Sesampainya di Malang kami hanya jalan kaki sekitaran Bundaran balai kota sampai area Car Free Day (CFD) sepanjang Jalan Ijen. Teringat betapa sulitnya nyebrang jalan di sekitaran bundaran.

Setelah dari CFD, paling naik angkot menuju Matos, mengelilingi pusat perbelanjaan, nyanyi di karaoke box, atau menikmati teh racik di area Food Court. Pernah ingin nonton film di bioskop namun kursi selalu penuh untuk siang hari, padahal sore kami harus kembali ke stasiun.

Dulu, di sekitaran Matos banyak warung-warung tenda, sebelum dibangun MX atau sekarang Transmart. Kami makan siang disitu dengan menu ala warung tegal. Namun hampir selalu tersedia menu tahu telur yang konon khas Malang.

Selama kuliah, pernah kehabisan tiket

Tahun pertama kuliah aku harus tinggal di Ma'had. Pulang ke Blitar selalu mengambil Jumat malam, pulang Minggu sore, tidak bisa Senin subuh karena agenda Ma'had sangat padat.

Baru tahun kedua bisa pulang senin subuh karena sudah tidak terikat agenda-agenda Ma'had, salah satunya Shalat subuh yang harus mengisi absensi, jika tidak ikut shalat subuh beberapa kali bisa kena iqab/hukuman dan terancam tidak lulus Ma'had.

###

Pernah kehabisan tiket kereta api. Aku masih ingat. Padahal kupikir tak ada kuota, toh tiket tak pernah disesuaikan dengan tempat duduk.

Namun meski kehabisan tiket, ada saja yang tetap bisa naik dan ketika pemeriksaan tiket, kadang cukup mengganti sejumlah uang untuk beli tiket.

Btw, dulu masuk peron tak seketat sekarang, tak perlu menunjukkan KTP.

Jika kehabisan tiket, langsung mencari angkot AG atau GA. Pokok ada G, yang berarti terminal Gadang untuk naik Bus Malam, rata-rata Busnya besar.

Angkot melewati jembatan sekitaran Jodipan yang dulu belum dicat warna warni. Sekilas kayak Kampung di sekitaran kali Ciliwung di Jakarta, namun ini kali Brantas.

Gerbong kereta yang penuh sesak

Minggu sore adalah jadwal yang padat untuk kereta ekonomi. Sebagian besar mahasiswa atau pekerja kembali ke perantauannya.

Tiap kali pulang Minggu sore, aku hampir tak pernah dapat tempat duduk. Bahkan tak jarang berjejalan di antara pintu masuk, agar dapat udara segar. Kami berdiri tanpa jarak, bahkan ada yang begelantungan di pintu gerbong.

Tangan kami saling memegang pundak penumpang lain, sebab tak ada pegangan lagi. Apalagi kami membawa tas yang lumayan berat. Tragisnya, kondisi itu bisa berlangsung dari Blitar hingga Malang, stasiun kota baru. Lebih melelahkan daripada upacara bendera yang hanya berapa menit.

Dengan kondisi seperti itu, tubuh kadang berkeringat, menyatu dengan bau belerang dari kereta api. Tak jarang pula perut terasa mual, satu-satunya cara mengalihkan pikiran adalah dengan membuka obrolan dengan penumpang lain. Ngobrol terus saja sampai tak terasa banyak stasiun terlewati.

Mengumpulkan tiket

Sebenarnya aku mengumpulkan tiket kereta api model kartu domino. Kubungkus dalam plastik, sebagai kenang-kenangan. Namun sepertinya menumpuk dalam berkas-berkas makalah perkuliahan dan berkasnya entah kemana, sebab berulang kali pindahan.

Sebagai mahasiswa, berkas kami sangat banyak. Aku pribadi punya dua dus khusus berisi berkas makalah dari setiap mata kuliah selama setahun, belum lagi berkas-berkas kuisioner.

Salah satu yang kusesali adalah berkas kliping tulisanku yang pernah dimuat koran. Aku mengumpulkan dengan rapi, tulisan yang muat di Kompas, Jawa Pos, Harian Surya, Koran Pendidikan, Majalah-majalah, hingga berkas liputan yang pernah kutulis.

Tidak semua berkas mampu kuangkut ke Blitar, sebagian mungkin tertinggal di kontrakan organisasi. Sebab di kontrakan organisasi itu juga ada berkas-berkas dari penghuni terdahulu yang mungkin juga tidak sempat diurus.

Saat pindahan yang kuingat hanya buku-buku, meski tidak semuanya terbawa dan kuhibahkan untuk organisasi.

Berkas lain entah kemana bersama tiket kartu domino yang legendaris itu, mungkin sudah dikiloin oleh penghuni baru sebab jika terus ditumpuk kontrakan bisa jadi gudang berkas. []

Blitar, 5 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz


Jumat, 04 Juni 2021


Masuk kuliah hingga semester 4, aku masih memanfaatkan transportasi umum. Sebulan sekali, atau 2 minggu sekali, pulang ke Blitar naik Kereta Api. Untuk menuju stasiun harus naik angkot. Jika kepancal Kereta Api, mau tak mau harus ke Terminal Gadang/Hamid Rusdi untuk naik Bus malam.

Biasa aku pulang ke Blitar Jumat malam, jadwal Kereta Api terakhir pukul 19.20. Balik ke Malang Senin pagi, jadwal Kereta pukul 04.20 subuh. Karena itu, sebisa mungkin aku mencari Jadwal kuliah siang untuk hari Senin agar tidak terlambat, karena sampai Malang biasanya pukul 08.00, belum termasuk naik angkotnya.

Itu berlangsung selama 2 tahun. Dalam perjalanan itu, hampir selalu bebarengan dengan mahasiswa lain dari lintas kampus, termasuk yang kuliah di Surabaya, mereka sudah berada di gerbong sejak sore.

Rata-rata Kereta Api tiba di Blitar antara pukul 22.00, bahkan karena ada masalah, pernah sampai di Blitar pukul 23.00.

Suasana stasiun, bau gerbong, dan bunyi sepoor menjadi begitu familiar, bahkan menyimpan memori yang penuh kenangan, terlebih suasana Kereta Api malam hari.

Baru masuk semester 5, aku membawa motor sendiri. Beat merah. Motor sangat penting untuk mobilitas, apalagi untuk orang sepertiku yang sejak SMA juga sudah naik motor. Betapa 2 tahun pertama seperti tirakat.

Selama 2 tahun "tanpa motor" di Malang sungguh perjuangan sendiri. Ke kampus jalan kaki, kemana mana jalan kaki, jika terlanjur jauh bisa naik angkot yang sekali jalan tarifnya 2.500. Dua kali naik angkot bisa beli bensin 1 liter saat itu. Dengan bensin 1 liter bisa menempuh jarak puluhan kilo.

Maka, aku putuskan semester 5 bawa motor dengan alasan lebih menghemat uang saku, apalagi banyak kegiatan atau tugas kuliah yang mengharuskan bepergian, bawa motor akan sangat membantu, bukan?

Ya, selain itu banyak agenda bisa aku ikuti. Seminar, kuliah umum, atau sekadar melepas penat dengan menyusuri jalanan Kota Malang.

Ternyata motor sangat penting bagiku, sebab pada akhirnya banyak tugas liputan, kerjaan hingga undangan kegiatan yang bisa aku penuhi. Meski kadang juga semacam ada ketergantungan, bawa motor atau tidak tergantung seberapa niatnya mengikuti kegiatan tersebut.

Beat merah adalah motorku sejak kelas XII, sebelum berganti dari Suzuki Smash 110 cc yang dijual tak lama setelah aku kecelakaan. Bagian depan motor pecah.
Beat merah jadi andalanku selama di Malang, tidak saja untuk kuliah namun untuk lebih dekat mengenal Kota Malang dan Kota Batu, menyusur banyak tempat. Bersyukur sekali bisa bawa motor setelah 2 tahun jadi pejalan kaki dan pengguna jasa transportasi umum.

Jumat, 4 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Kamis, 03 Juni 2021


Kuliah di Malang memberikanku pengalaman tinggal di beberapa tempat yang berbeda. Tahun pertama tinggal di Ma'had, nama lain dari Pondok Pesantren namun diintegrasikan dengan jadwal perkuliahan.

Saat tinggal di Ma'had, aku dapat gelar Mahasantri. Padahal pendidikan terakhirku hanya sampai Madrasah Diniyah atau ngaji malam, belum pernah jadi santri pondok pesantren.

Jadwal kuliah kami sampai pukul 16.30, setelah itu kamar mandi menjadi sangat padat. Antri cukup panjang. Bagi yang tidak sabar lebih memilih mandi di luar, tersedia kamar mandi panjang berpetak-petak. Hanya kurang terawat karena banyak lumut.

Tahun kedua, aku tinggal di rumah kontrakan, basecamp organisasi. Lokasinya dekat kuburan. Persis. Ada 5 kamar, dapur, 1 kamar mandi dan ruang depan yang luasnya sekitar 4x5 meter.

Semasa kuliah ini sepertinya aku lebih sehat, karena setiap hari jalan kaki. Jarak kontrakan ke kampus kurang dari 1 Km, cukup dekat, namun jika bolak balik dan apalagi di kampus harus naik turun tangga, ya lumayan juga.

Tahun ketiga sebenarnya aku ingin pindah ngekos, namun karena pertimbangan organisasi, aku akhirnya ikut ngontrak rumah yang lokasinya beda satu gang dengan kontrakan sebelumnya.

Hanya ada 4 kamar, dengan kamar mandi super sempit dan lokasi jemuran di atap. Saking rapetnya bangunan satu dan lainnya, sirkulasi udara dan cahaya kurang baik sampai tembok kontrakan berjamur.
Masuk tahun keempat, aku masih ikut ngontrak dengan teman organisasi. Kami pindah rumah gang yang berbeda. Di rumah itu hanya ada 3 kamar, satu kamar di bagian atas dekat jemuran dan sangat sempit. Aku memilih kamar atas dengan alasan bisa satu kamar sendiri.

Oya, sejak masuk tahun ketiga aku sudah membawa motor sendiri. Jadi lebih mobile kalau kemana-mana, bisa jalan-jalan atau sekadar menghadiri berbagai acara.

Seharusnya tahun keempat adalah tahun terakhir aku kuliah. Artinya selepas dari kontrakan keempat ini aku tidak berpikir untuk lanjut mau tinggal di mana. Namun disatu sisi aku sudah terikat dengan pekerjaan.

Teman-teman, yang semuanya satu tingkat di bawahku, hendak mencari kontrakan lain karena harga sewa naik dan lokasinya di antara gang sempit. Aku tidak bisa ikut dan akhirnya memutuskan untuk ngekos. Akhirnya setelah sekian lama bisa ngekos juga.

Sengaja aku mencari lokasi yang agak jauh dari kampus, model kos-kosan yang lebih homy. Artinya, bukan bangunan khusus kos-kosan, namun kos-kosan yang ikut dalam satu rumah pemiliknya.

Akhirnya dapat di daerah Jalan Panjaitan, dekat Jembatan Gantung. Kamar kosku lumayan luas, 3x2 meter. Kamar mandinya luas juga. Menariknya, ada ruang tengah yang juga sangat luas. Rumah model lama yang menarik untuk ditinggali.

Seingatku, hanya ada 4 kamar. Kamar sebelah kuliah di UM, lainnya kuliah di Brawijaya.

Di kamar tengah ada meja dan kursi yang biasa untuk nongkrong. Kamarku dekat bagian belakang yang penuh dengan pot-pot bunga. Suasana kos-kosan ini sunyi seperti umumnya perumahan karena memang agak jauh dari kampus.

Sebenarnya aku ngekos berdua, satu angkatan kuliah yang harus "ekstra time", namun temanku hanya datang ketika ada urusan dengan skripsinya. Sementara aku harus kerja, meski seminggu hanya ada 1 jadwal kuliah itupun di hari kamis, namun beberapa pekerjaan harus aku kerjakan dari Senin-sabtu.

Biasanya aku kembali ke kos sekitar jam 3 sore. Karena anak kos, lebih banyak yang sibuk di kamar masing-masing, namun kamarnya terbuka, sehingga bisa saling menyapa.

Selepas mandi, biasanya aku duduk di ruang tengah yang luas tadi, menyalakan laptop dan berselancar ke beragam situs internet pakai modem. Ya, itu tahun 2014. Seingetku hanya kampus, telkom dan segelintir kafe yang punya wifi, dulu kami menyebutnya hotspot.
Suasana sore sangat nyaman. Di depan, Ibu kos sedang menyemprot tanaman lewat selang air kran, bapak kos yang juga Pak RT di lingkungan tersebut sedang mengurus burung peliharaan. 

Aku, dengan kondisi badan yang segar selepas mandi, membaca artikel-artikel di internet sambil menikmati Cappucino yang kubeli di Indomaret point saat pulang tadi.

Sore hari semacam "me time" yang kubuat khusus, karena selepas magrib biasanya ada beberapa agenda, apalagi di akhir pekan, ada banyak undangan mengisi kegiatan di Batu.

Belakangan, suasana sore ini mengingatkanku saat di kos-kosan dulu. Suasananya saja yang sama. Tulisan ini adalah ungkapan rasa rindu akan suasana itu. []

Blitar, 3 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz