Cari tulisan berdasar topik

Selasa, 15 Juni 2021

Pertemuan mingguan FLP Blitar sudah berlangsung sejak bulan Juli 2008, bahkan ketika FLP Blitar belum diresmikan secara formal. Itu berarti, sudah lewat satu dasawarsa.

Awalnya, pertemuan digelar hari Jumat. Lokasinya, kadang di serambi Masjid Syuhada' Haji, kadang di Perpustakaan Manca Kebonrojo. 

Aku yang kala itu masih kelas XI Aliyah, berangkat dari sekolah dengan beberapa teman. Seingetku ada 4 orang teman dari sekolah. Kami masih berseragam.

Setelah diresmikan pada 31 Agustus 2008, entah mulai kapan tepatnya, pertemuan dialihkan hari Ahad di Selasar Perpustakaan Bung Karno. Mungkin karena banyaknya pendaftar baru. Pertemuan yang biasanya siang juga berganti pagi.

Setelah itu, sepertinya pertemuan tetap hari Ahad, sampai aku pindah ke Malang selama tujuh tahun dan tidak lagi aktif, hanya sekali dalam kurun waktu tujuh tahun itu aku datang ke acara FLP Blitar sebagai moderator acara di Unisba.

##

Masuk tahun 2015, pertemuan mingguan kembali digelar, meski segelintir orang yang datang. Awalnya hari Jumat juga, lalu pindah hari Ahad, sampai sekarang.

Dari 2015-2016, pertemuan diisi bedah karya yang diselingi materi. Ketika ada project antologi cerpen, karya yang dibedah adalah cerpen yang akan diterbitkan menjadi antologi.

Konsep rutinan sedikit diperbaharui pada 2017 dan seterusnya, karena banyaknya anggota baru. Mulai dibuka materi menulis, dan berikutnya kelas-kelas. Suasananya jadi sedikit formal.

Bayangkan, pertemuan mingguan yang awalnya semacam nongkrong biasa membahas karya penulis terkemuka, atau ruang sharing dari karya yang dibuat antar anggota, berubah menjadi forum belajar semi formal.

Namun itu karena kebutuhan organisasi, sebab menyesuaikan anggota, ada yang sudah biasa berkarya ada yang masih mau mulai.

Selain itu, pertemuan yang awalnya hanya sekali dalam seminggu, menjadi dua kali bahkan lebih. Karena harus bertemu untuk khusus membahas organisasi, atau bertemu per kelas masing-masing.

Bayangkan, FLP Blitar yang mulanya semacam komunitas hobi, akhirnya berubah menjadi organisasi formal dengan beragam agenda, terutama ketika FLP Jatim mulai aktif. FYI, awal 2015 saat FLP Blitar kembali aktif, FLP Jatim dalam kondisi vakum.

Sekarang, selain banyak agenda internal yang harus diurusi, dengan struktur yang lebih padat, kadang juga dituntut untuk mengikuti agenda dari FLP tingkat Provinsi dan Nasional. Sangat padat, bukan?

Akhirnya, mengelola FLP Blitar sekarang tidak lagi sekadar mengelola komunitas hobi, namun juga organisasi formal dengan segala urusan strukturalnya.

Tradisi baik yang perlu dilestarikan

Pertemuan mingguan adalah tradisi baik, bahkan saking lamanya berkecimpung di FLP Blitar, tiap hari Ahad aku selalu terpikir rutinan FLP Blitar. Anda bayangkan, sejak 2015 hingga sekarang. Sudah ratusan kali rutinan digelar, otomatis tersistem dalam jadwal harian.

Hari Ahad seperti "pertemuan paten" untuk FLP Blitar. Pertemuan lain diluar hari itu, tak banyak berkesan. Setidaknya, dalam tujuh hari ada satu hari khusus untuk belajar menulis, itupun paling hanya 2-3 jam.

Jika seminggu ada 168 jam. Cukup menyisihkan 3 jam untuk FLP Blitar, masih tersisa 165 jam untuk aktivitas lainnya. Sebenarnya tidak sulit, hanya soal prioritas dan kesungguhan.

Tradisi bertemu, membahas suatu ilmu/skill, berbagi pengetahuan adalah tradisi baik yang perlu dilestarikan.

Hiburan akhir pekan

Pertemuan mingguan seperti hiburan akhir pekan, sudah bukan lagi tuntutan. Harusnya memang begitu.

Kadang-kadang aku menyarankan ke suatu kafe atau tempat nongkrong yang representatif. Hedon sekali ya? Ah tidak juga, toh kita paling hanya memesan segelas minuman dan kadang semangkok snack. Anggap saja kompensasi dari hiburan.

Lagipula, yang kita bahas adalah hal bermanfaat, bukan dugem atau karaoke plus plus. Dengan suasana kafe yang informal, bahkan dengan view atau desain lokasi yang menarik, membuat obrolan bisa lebih asyik.

Dalam pertemuan rutin itu, banyak yang dipelajari, tidak saja materi kepenulisan. Ada yang belajar jadi MC, Moderator, kultum, notulen dan narasumber. Ada praktek setelahnya. Entah seberapa manfaat yang sudah berlangsung sejak rutinan digelar.

Ada karya-karya diciptakan, dibahas, dikomentari. Jangan lupa juga, ada passion yang terwadahi, ada ruang untuk beraktualisasi, yang menurut Abraham Maslow, dalam hierarchy of needs, ruang berkarya atau aktualisasi adalah kebutuhan dasar kelima jika orang ingin berkembang.

Artinya, manusia butuh bertemu dengan orang lain dalam suatu wadah yang saling menghargai ide, karya dan intelektualitasnya. []

Blitar, 15 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Sabtu, 05 Juni 2021


Pertama naik Kereta Api saat Aliyah, mungkin sekitaran tahun 2008. Rute pertama tentu saja ke Malang, untuk jalan-jalan di hari Minggu.

Tiketnya murah, seingatku Rp4.000. Tiket bisa dibeli langsung di loket, tanpa batasan kuota. Ya, jika beruntung bisa dapat tempat duduk, jika tidak ya harus berdiri, atau duduk lesehan santuy di antara pintu-pintu gerbong.

Karena dulu berangkat subuh, masih tersedia banyak tempat duduk. Baru masuk stasiun Kepanjen, penumpang sudah penuh, banyak yang berdiri, berjejalan, dan harus berbagi jalan dengan penjual asongan atau pengamen.

Sesampainya di Malang kami hanya jalan kaki sekitaran Bundaran balai kota sampai area Car Free Day (CFD) sepanjang Jalan Ijen. Teringat betapa sulitnya nyebrang jalan di sekitaran bundaran.

Setelah dari CFD, paling naik angkot menuju Matos, mengelilingi pusat perbelanjaan, nyanyi di karaoke box, atau menikmati teh racik di area Food Court. Pernah ingin nonton film di bioskop namun kursi selalu penuh untuk siang hari, padahal sore kami harus kembali ke stasiun.

Dulu, di sekitaran Matos banyak warung-warung tenda, sebelum dibangun MX atau sekarang Transmart. Kami makan siang disitu dengan menu ala warung tegal. Namun hampir selalu tersedia menu tahu telur yang konon khas Malang.

Selama kuliah, pernah kehabisan tiket

Tahun pertama kuliah aku harus tinggal di Ma'had. Pulang ke Blitar selalu mengambil Jumat malam, pulang Minggu sore, tidak bisa Senin subuh karena agenda Ma'had sangat padat.

Baru tahun kedua bisa pulang senin subuh karena sudah tidak terikat agenda-agenda Ma'had, salah satunya Shalat subuh yang harus mengisi absensi, jika tidak ikut shalat subuh beberapa kali bisa kena iqab/hukuman dan terancam tidak lulus Ma'had.

###

Pernah kehabisan tiket kereta api. Aku masih ingat. Padahal kupikir tak ada kuota, toh tiket tak pernah disesuaikan dengan tempat duduk.

Namun meski kehabisan tiket, ada saja yang tetap bisa naik dan ketika pemeriksaan tiket, kadang cukup mengganti sejumlah uang untuk beli tiket.

Btw, dulu masuk peron tak seketat sekarang, tak perlu menunjukkan KTP.

Jika kehabisan tiket, langsung mencari angkot AG atau GA. Pokok ada G, yang berarti terminal Gadang untuk naik Bus Malam, rata-rata Busnya besar.

Angkot melewati jembatan sekitaran Jodipan yang dulu belum dicat warna warni. Sekilas kayak Kampung di sekitaran kali Ciliwung di Jakarta, namun ini kali Brantas.

Gerbong kereta yang penuh sesak

Minggu sore adalah jadwal yang padat untuk kereta ekonomi. Sebagian besar mahasiswa atau pekerja kembali ke perantauannya.

Tiap kali pulang Minggu sore, aku hampir tak pernah dapat tempat duduk. Bahkan tak jarang berjejalan di antara pintu masuk, agar dapat udara segar. Kami berdiri tanpa jarak, bahkan ada yang begelantungan di pintu gerbong.

Tangan kami saling memegang pundak penumpang lain, sebab tak ada pegangan lagi. Apalagi kami membawa tas yang lumayan berat. Tragisnya, kondisi itu bisa berlangsung dari Blitar hingga Malang, stasiun kota baru. Lebih melelahkan daripada upacara bendera yang hanya berapa menit.

Dengan kondisi seperti itu, tubuh kadang berkeringat, menyatu dengan bau belerang dari kereta api. Tak jarang pula perut terasa mual, satu-satunya cara mengalihkan pikiran adalah dengan membuka obrolan dengan penumpang lain. Ngobrol terus saja sampai tak terasa banyak stasiun terlewati.

Mengumpulkan tiket

Sebenarnya aku mengumpulkan tiket kereta api model kartu domino. Kubungkus dalam plastik, sebagai kenang-kenangan. Namun sepertinya menumpuk dalam berkas-berkas makalah perkuliahan dan berkasnya entah kemana, sebab berulang kali pindahan.

Sebagai mahasiswa, berkas kami sangat banyak. Aku pribadi punya dua dus khusus berisi berkas makalah dari setiap mata kuliah selama setahun, belum lagi berkas-berkas kuisioner.

Salah satu yang kusesali adalah berkas kliping tulisanku yang pernah dimuat koran. Aku mengumpulkan dengan rapi, tulisan yang muat di Kompas, Jawa Pos, Harian Surya, Koran Pendidikan, Majalah-majalah, hingga berkas liputan yang pernah kutulis.

Tidak semua berkas mampu kuangkut ke Blitar, sebagian mungkin tertinggal di kontrakan organisasi. Sebab di kontrakan organisasi itu juga ada berkas-berkas dari penghuni terdahulu yang mungkin juga tidak sempat diurus.

Saat pindahan yang kuingat hanya buku-buku, meski tidak semuanya terbawa dan kuhibahkan untuk organisasi.

Berkas lain entah kemana bersama tiket kartu domino yang legendaris itu, mungkin sudah dikiloin oleh penghuni baru sebab jika terus ditumpuk kontrakan bisa jadi gudang berkas. []

Blitar, 5 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz


Jumat, 04 Juni 2021


Masuk kuliah hingga semester 4, aku masih memanfaatkan transportasi umum. Sebulan sekali, atau 2 minggu sekali, pulang ke Blitar naik Kereta Api. Untuk menuju stasiun harus naik angkot. Jika kepancal Kereta Api, mau tak mau harus ke Terminal Gadang/Hamid Rusdi untuk naik Bus malam.

Biasa aku pulang ke Blitar Jumat malam, jadwal Kereta Api terakhir pukul 19.20. Balik ke Malang Senin pagi, jadwal Kereta pukul 04.20 subuh. Karena itu, sebisa mungkin aku mencari Jadwal kuliah siang untuk hari Senin agar tidak terlambat, karena sampai Malang biasanya pukul 08.00, belum termasuk naik angkotnya.

Itu berlangsung selama 2 tahun. Dalam perjalanan itu, hampir selalu bebarengan dengan mahasiswa lain dari lintas kampus, termasuk yang kuliah di Surabaya, mereka sudah berada di gerbong sejak sore.

Rata-rata Kereta Api tiba di Blitar antara pukul 22.00, bahkan karena ada masalah, pernah sampai di Blitar pukul 23.00.

Suasana stasiun, bau gerbong, dan bunyi sepoor menjadi begitu familiar, bahkan menyimpan memori yang penuh kenangan, terlebih suasana Kereta Api malam hari.

Baru masuk semester 5, aku membawa motor sendiri. Beat merah. Motor sangat penting untuk mobilitas, apalagi untuk orang sepertiku yang sejak SMA juga sudah naik motor. Betapa 2 tahun pertama seperti tirakat.

Selama 2 tahun "tanpa motor" di Malang sungguh perjuangan sendiri. Ke kampus jalan kaki, kemana mana jalan kaki, jika terlanjur jauh bisa naik angkot yang sekali jalan tarifnya 2.500. Dua kali naik angkot bisa beli bensin 1 liter saat itu. Dengan bensin 1 liter bisa menempuh jarak puluhan kilo.

Maka, aku putuskan semester 5 bawa motor dengan alasan lebih menghemat uang saku, apalagi banyak kegiatan atau tugas kuliah yang mengharuskan bepergian, bawa motor akan sangat membantu, bukan?

Ya, selain itu banyak agenda bisa aku ikuti. Seminar, kuliah umum, atau sekadar melepas penat dengan menyusuri jalanan Kota Malang.

Ternyata motor sangat penting bagiku, sebab pada akhirnya banyak tugas liputan, kerjaan hingga undangan kegiatan yang bisa aku penuhi. Meski kadang juga semacam ada ketergantungan, bawa motor atau tidak tergantung seberapa niatnya mengikuti kegiatan tersebut.

Beat merah adalah motorku sejak kelas XII, sebelum berganti dari Suzuki Smash 110 cc yang dijual tak lama setelah aku kecelakaan. Bagian depan motor pecah.
Beat merah jadi andalanku selama di Malang, tidak saja untuk kuliah namun untuk lebih dekat mengenal Kota Malang dan Kota Batu, menyusur banyak tempat. Bersyukur sekali bisa bawa motor setelah 2 tahun jadi pejalan kaki dan pengguna jasa transportasi umum.

Jumat, 4 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Kamis, 03 Juni 2021


Kuliah di Malang memberikanku pengalaman tinggal di beberapa tempat yang berbeda. Tahun pertama tinggal di Ma'had, nama lain dari Pondok Pesantren namun diintegrasikan dengan jadwal perkuliahan.

Saat tinggal di Ma'had, aku dapat gelar Mahasantri. Padahal pendidikan terakhirku hanya sampai Madrasah Diniyah atau ngaji malam, belum pernah jadi santri pondok pesantren.

Jadwal kuliah kami sampai pukul 16.30, setelah itu kamar mandi menjadi sangat padat. Antri cukup panjang. Bagi yang tidak sabar lebih memilih mandi di luar, tersedia kamar mandi panjang berpetak-petak. Hanya kurang terawat karena banyak lumut.

Tahun kedua, aku tinggal di rumah kontrakan, basecamp organisasi. Lokasinya dekat kuburan. Persis. Ada 5 kamar, dapur, 1 kamar mandi dan ruang depan yang luasnya sekitar 4x5 meter.

Semasa kuliah ini sepertinya aku lebih sehat, karena setiap hari jalan kaki. Jarak kontrakan ke kampus kurang dari 1 Km, cukup dekat, namun jika bolak balik dan apalagi di kampus harus naik turun tangga, ya lumayan juga.

Tahun ketiga sebenarnya aku ingin pindah ngekos, namun karena pertimbangan organisasi, aku akhirnya ikut ngontrak rumah yang lokasinya beda satu gang dengan kontrakan sebelumnya.

Hanya ada 4 kamar, dengan kamar mandi super sempit dan lokasi jemuran di atap. Saking rapetnya bangunan satu dan lainnya, sirkulasi udara dan cahaya kurang baik sampai tembok kontrakan berjamur.
Masuk tahun keempat, aku masih ikut ngontrak dengan teman organisasi. Kami pindah rumah gang yang berbeda. Di rumah itu hanya ada 3 kamar, satu kamar di bagian atas dekat jemuran dan sangat sempit. Aku memilih kamar atas dengan alasan bisa satu kamar sendiri.

Oya, sejak masuk tahun ketiga aku sudah membawa motor sendiri. Jadi lebih mobile kalau kemana-mana, bisa jalan-jalan atau sekadar menghadiri berbagai acara.

Seharusnya tahun keempat adalah tahun terakhir aku kuliah. Artinya selepas dari kontrakan keempat ini aku tidak berpikir untuk lanjut mau tinggal di mana. Namun disatu sisi aku sudah terikat dengan pekerjaan.

Teman-teman, yang semuanya satu tingkat di bawahku, hendak mencari kontrakan lain karena harga sewa naik dan lokasinya di antara gang sempit. Aku tidak bisa ikut dan akhirnya memutuskan untuk ngekos. Akhirnya setelah sekian lama bisa ngekos juga.

Sengaja aku mencari lokasi yang agak jauh dari kampus, model kos-kosan yang lebih homy. Artinya, bukan bangunan khusus kos-kosan, namun kos-kosan yang ikut dalam satu rumah pemiliknya.

Akhirnya dapat di daerah Jalan Panjaitan, dekat Jembatan Gantung. Kamar kosku lumayan luas, 3x2 meter. Kamar mandinya luas juga. Menariknya, ada ruang tengah yang juga sangat luas. Rumah model lama yang menarik untuk ditinggali.

Seingatku, hanya ada 4 kamar. Kamar sebelah kuliah di UM, lainnya kuliah di Brawijaya.

Di kamar tengah ada meja dan kursi yang biasa untuk nongkrong. Kamarku dekat bagian belakang yang penuh dengan pot-pot bunga. Suasana kos-kosan ini sunyi seperti umumnya perumahan karena memang agak jauh dari kampus.

Sebenarnya aku ngekos berdua, satu angkatan kuliah yang harus "ekstra time", namun temanku hanya datang ketika ada urusan dengan skripsinya. Sementara aku harus kerja, meski seminggu hanya ada 1 jadwal kuliah itupun di hari kamis, namun beberapa pekerjaan harus aku kerjakan dari Senin-sabtu.

Biasanya aku kembali ke kos sekitar jam 3 sore. Karena anak kos, lebih banyak yang sibuk di kamar masing-masing, namun kamarnya terbuka, sehingga bisa saling menyapa.

Selepas mandi, biasanya aku duduk di ruang tengah yang luas tadi, menyalakan laptop dan berselancar ke beragam situs internet pakai modem. Ya, itu tahun 2014. Seingetku hanya kampus, telkom dan segelintir kafe yang punya wifi, dulu kami menyebutnya hotspot.
Suasana sore sangat nyaman. Di depan, Ibu kos sedang menyemprot tanaman lewat selang air kran, bapak kos yang juga Pak RT di lingkungan tersebut sedang mengurus burung peliharaan. 

Aku, dengan kondisi badan yang segar selepas mandi, membaca artikel-artikel di internet sambil menikmati Cappucino yang kubeli di Indomaret point saat pulang tadi.

Sore hari semacam "me time" yang kubuat khusus, karena selepas magrib biasanya ada beberapa agenda, apalagi di akhir pekan, ada banyak undangan mengisi kegiatan di Batu.

Belakangan, suasana sore ini mengingatkanku saat di kos-kosan dulu. Suasananya saja yang sama. Tulisan ini adalah ungkapan rasa rindu akan suasana itu. []

Blitar, 3 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Jumat, 28 Mei 2021


Beberapa anak mendatangiku dan menceritakan apa cita-citanya, ada yang ingin jadi auditor, pengusaha, anggota DPR, dosen, dan lain sebagainya.

Mereka juga menceritakan kemana saja selama liburan, di antara mereka ada yang ke Thailand, Selandia Baru, dan Umroh.

Aku tersenyum, sembari mengepalkan tangan dan berkata : semangat!

Selama 2 bulan aku akan menjadi guru mereka. Mereka masih kelas 3 MI. Sekolah ini tergolong sekolah maju, meskipun negeri. Gedung-gedungnya bagus, area sekolahnya rindang, fasilitas non akademiknya juga mendukung.

Mereka yang bersekolah di sini juga dari keluarga menengah ke atas, jika dilihat dari biaya SPPnya. Entah kenapa aku mendapatkan lokasi praktek mengajar di sekolah ini, konon itu dilihat dari nilai micro teaching atau simulasi sebelum praktek. Padahal sekolah ini sangat maju, dilihat dari segi apapun.

Tak sebanding dengan pengalamanku saat sekolah SD dulu. Meski negeri, SD kami dulu paling tertinggal di antara 3 SD lainnya yang jaraknya tak begitu jauh.

Jika ditanya cita-cita, jawabnya hanya 4 : kalau tidak guru, polisi, tentara, ya dokter. Karena hanya 4 profesi itu yang kami tahu namanya dan terlihat sukses.

Jika ditanya liburan kemana? Jawaban kami ya hanya bersama teman, atau maksimal ke rumah nenek yang jarakanya berbatas kecamatan atau kota.

Aku membandingkan begitu jauhnya dunia SDku dengan dunia mereka, tak membayangkan betapa lugunya misal diriku versi SD bergerumul dengan mereka saat ini. Ya wajar, sekolahnya saja berbeda.

Maju dan tak maju

Orang tua tentu ingin anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, salah satunya dengan memasukkan ke sekolah terbaik. Baik dari segi rata-rata prestasi akademik maupun non akademik, fasilitas sekolah, kualitas pengajar, hingga iklim belajar yang kondusif, dalam arti tidak ada tawuran dan bullying.

Itulah kenapa biayanya mahal, terutama yang swasta. Namun meski mahal peminatnya justru banyak, entah karena makin banyaknya orang tua yang naik level ekonominya atau demi pendidikan anak, biaya berapapun akan diusahakan. 

Namun kadang-kadang juga tidak berhenti di biaya pendidikan. Ketika mereka masuk sekolah itu, mereka akan bertemu teman-teman dan akan banyak obrolan terjadi soal keluarga, pekerjaan orang tua, mainan favorit, merk mobil, lokasi liburan, makanan favorit dan lain sebagainya.

Aku yang dari SD kurang maju, sekilas merasa bersyukur dulu sekolah di tempat yang biasa-biasa saja, tidak ada obrolan super wah yang bisa membuat kami insecure. Teman kami ya hidup nyaris sama. Jangankan ke Australia, ke Alun-alun kota pun belum tentu setahun sekali.

Pendidikan formal, informal dan nonformal

Ibarat benih, sekolah adalah lahan tumbuh bagi anak. Namun sekolah bukan satu-satunya. Sekolah adalah bagian dari pendidikan formal, masih ada yang informal dan nonformal.

Anak juga bisa tumbuh dalam keluarga dan lingkungan, yang kita sebutnya pendidikan informal. Mulanya anak melakukan imitasi/peniruan pada kebiasaan orang tua. Jadi perilaku anak adalah refleksi dari apa yang mereka lihat dari orang tua dan atau lingkungannya.

Misal di keluarga anak tidak bisa tumbuh maksimal, dia bisa tumbuh di tempat lain, lewat kegiatan hobinya misal. Siapa tau, dia justru menemukan makna hidupnya disitu.

Pada usia-usia remaja tempat tumbuhnya bisa jadi justru di komunitas di luar sekolah atau organisasi ekstrakurikuler. Itu bagian dari pendidikan nonformal.

Dia bisa tumbuh, berkembang, menjalin relasi, mendapat ruang dan apresiasi.

Lagipula, kita harus sadar tidak semua anak lahir beruntung, tidak semua anak bisa tumbuh dalam keluarga, karena berbagai alasan.

Para orang tua sibuk mencarikan sekolah terbaik bagi anaknya, namun jangan sampai lupa bahwa keluarga juga tempat mereka tumbuh.

Para orang tua berusaha menggenjot akademik anaknya dengan les tambahan dan semacamnya, namun jangan lupakan bahwa ruang-ruang non akademik juga bagian dari lahan tumbuhnya anak.

Pendidikan bukan hanya di kelas, bukan?

Jumat, 28 Mei 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Rabu, 26 Mei 2021


Tiap kali ke warnet hampir selalu aku ketemu kakak kelas paling stylist di sekolah. Dia memasang headset dan fokus pada komputer, sesekali say hello jika melihatku. Begitupun sebaliknya, misal ketika aku sudah berada di warnet duluan dan dia baru datang.

Kebetulan, meski tidak stylist, aku juga lumayan dikenal di sekolah saat itu sebagai ketua ekskul.

Saat itu masih berseragam sekolah, jadi kami tahu jika masih satu almamater. Uniknya, kami tidak pernah saling kenalan, hanya seringkali berpaspasan di warnet, lalu pas acara perpisahan aku menjadi MC dan dia tampil untuk sesi drama.

Namun kenapa waktu itu aku sering sekali ke warnet? Di era itu (antara 2007-2009) aku sudah cukup familiar dengan dunia maya, sudah punya facebook, friendster apalagi. Teman sekelas belum satu pun yang tau apa itu facebook.

Aku ke warnet setelah pulang sekolah, kebetulan sekolah kami hanya sampai pukul 13.45. Selain lebih murah karena paket pelajar (syaratnya harus berseragam), kala itu juga berpikir : kalau pulang mau ngapain ya? Akhirnya warnet lah yang menjadi tempat tujuan.

Padahal apa saja yang dilakukan di warnet? Dengerin musik, chatting di MIRc, buka friendster, dll

(FYI. Dengerin musik tidak semudah sekarang, dulu Mp3 aja jarang yang punya, beberapa dengerin musik lewat Ipod. Hp sebagian besar masih polyponic).

Chat di MIRc
Ketika komputer menyala, dulu ada icon/aplikasi MIRc. Itulah media chat paling hits di eranya. Kita bisa masuk room chat, entah random atau yang berdasar kota. Misal room chat blitar. Namun semuanya full teks, belum ada fitur lainnya.

Biasanya aku masuk room jakarta, room bandung atau room surabaya. Kita bisa chat ramai-ramai di grup atau memilih satu orang, istilah sekarang japri.

Setelah kenalan, baru tukar foto lewat MMS, atau kalau sudah punya friendster or facebook tinggal tukeran nickname saja. Sehingga, sebagian besar teman friendster saat itu ya dari MIRc.

Asyik sekali bisa berhubungan dengan banyak orang dari berbagai daerah lewat internet. Apalagi bisa sampai bertemu di friendster dan facebook.

Aktif bersosial media

Ternyata dari tahun ke tahun manusia makin menambah porsi waktunya di depan komputer, apalagi ketika sosial media mulai dikenal luas dan terlebih ponsel pintar diciptakan.

Saat aktif di friendster dulu, yang kuingat orang-orang mengirim quote atau arts, ada fitur semacam itu di friendster. Begitupun dengan facebook, baru setelah ponsel android merebak, banyak orang mulai membuka akun facebook dan segala keluh kesah kemudian ditumpahkan ke beranda.

Aku yang aktif bersosial media sejak 2007, benar-benar merasakan perbedaan tren di beranda, bahwa sosial media mulai menjadi "tempat sampah" untuk membuang keluh kesah, umpatan, dlsb. Hal itu membuatku merasa bersosial media tak asyik lagi.

Tren itu juga mulai bergeser dengan misal mengunggah makanan, minuman, atau pencapaian hidup. Seringkali itu terjadi, semacam pamer begitu.

Sekarang aku justru sangat jarang bikin status facebook, sesekali posting di instagram, dan lebih sering di story wa karena pemirsanya terbatas, atau dari circle yang kita kehendaki.

Kesepian dan butuh penghargaan?

Menurut beberapa penelitian, orang yang aktif sekali di sosial media berarti dia sedang kesepian di dunia nyata.

Mungkin banyak yang tidak percaya kalau saat itu aku sedang kesepian, menghabiskan waktu berjam-jam di warnet. Karena kesepian itu konteksnya luas, bukan hanya tidak punya teman. Mungkin saja saat itu aku kesepian, entah kesepian karena apa hingga sering sekali ke warnet.

Kesepian bisa jadi justru dari diri sendiri, ada inferiority, tidak adanya penghargaan atau pengakuan, maka sosial media sebagai etalase untuk mengakui betapa hebat dirinya, atau sekadar mengalihkan pikiran.

Konon, kesepian bisa membawa ke mental health problem. Sebuah keinginan untuk ingin terus diakui, meski yang mengakui dirinya sendiri.

Belum lagi yang mengunggah pencapaian demi pencapaian dalam karir dan pekerjaan. Wiuh, kadang-kadang aku mikir, kenapa belantara sosial media jadi sebegini ramainya ya?

Justru aku rindu bersosial media di zaman sekolah dulu, karena sepertinya mereka bersosial media dengan alamiah, apa adanya, tak banyak polesan-polesan atau pamer pencapaian.

Sosial media untuk bisnis

Sekarang, pergeseran kembali terjadi. Sosial media seperti facebook dan instagram misalnya, lebih diarahkan sebagai market place, untuk berbinis baik jasa atau barang.

Ada laman khususnya di facebook, bahkan profil instagram juga bisa dibuat profil bisnis.

Selama ini sosial media dijadikan media efektif terutama untuk propaganda, ujaran kebencian dan lain sebagainya, mungkin dengan ini pengelola ingin mengajak penggunanya : ayolah berbisnis, kembangkan diri, jangan ribut melulu.

Meski begitu forum-forum ilmiah juga cukup representatif. Pernah demi sebuah pembaharuan, aku melakukan unfriend besar-besaran hampir 50% teman yang tak kukenal atau yang sering bikin status tak bermanfaat.

Lalu aku add friend akun orang-orang yang berlatar akademisi, seniman, budayawan, jurnalis, aktivis sosial dan sebagainya, yang menurutku akan menyajikan postingan-postingan bermanfaat.

Sekarang, ketika membuka beranda facebook, langsung banyak ilmu atau perspektif baru yang kudapat, sangat bermanfaat, meski ya sesekali diselingi oleh jualan-jualan. Tak masalah, bukan?

Mungkin benar, orang kesepian akan lebih aktif bersosial media agar ia tak lagi merasa kesepian, atau justru akan tambah kesepian karena di sosial media pun ia tak mendapat tanggapan yang berarti. []

Ahmad Fahrizal Aziz


Selasa, 18 Mei 2021


Dulu, saat belum ada game online, yang dikunjungi anak-anak adalah rental playstation. Generasi saya waktu masih SD dan SMP, bisa berjam-jam berada di lokasi rental.

Tak jarang yang dijemput paksa orang tuanya, bahkan dimarahi di lokasi, beberapa sampai disakiti secara fisik, seperti dijewer, ditempeleng, ditabok pantat dan sebagainya.

Semakin meresahkan sebab ternyata tempat rental itu juga dijadikan tempat untuk bolos sekolah atau belajar merokok. Tak jarang orang tua yang geregetan dan langsung melabrak pemilik rental. 

Bahkan dalam rapat pertemuan Wali Murid, tak jarang yang meminta pihak sekolah agar menghubungi RT setempat dan meminta rental ditutup agar tidak lagi dijadikan tempat bolos atau menghabiskan uang.

Setelah era playstation, masuklah era baru : game online, namun masih menggunakan PC. Game populer di antaranya Counter Strike. Lokasinya berpindah ke Warnet atau Warung Internet.

Problemnya nyaris sama. Hanya beda perangkat gamenya. Di salah satu warnet, bahkan sampai digeruduk beberapa orang tua dan meminta pemilik warnet membatasi jam buka. Saya tahu persis karena sedang berada di lokasi warnet tersebut.

Pada jam sekolah, bahkan satpol PP digerakkan untuk merazia anak-anak yang bolos sekolah. Karena pekerjaan saya memerlukan jaringan internet, sering saya berada di lokasi warnet pada jam-jam sekolah.

Dari Warnet, kita masuk era baru : game online di ponsel pintar. Untuk memainkannya butuh HP android, kuota atau wifi, dan voucer game. Harga voucer game kadang juga tak murah.

Anak-anak tidak lagi pergi ke rental playstation atau ke warnet, namun bisa stay di rumah masing-masing atau bergerombol mencari titik wifi, entah itu kafe, warung kopi atau fasilitas publik.

Asyiknya main game dan masalah yang menyertainya

Saya termasuk yang merasakan betapa asyik dan menyenangkannya main game, terutama di era playstation.

Bagi anak, game adalah dunia yang membahagiakan. Namun itu juga ada dampaknya, lupa waktu terutama. Apalagi ketika rela bolos sekolah hingga mencuri uang demi agar bisa main game. Itu jadi masalah serius, karena sudah masuk dalam perilaku buruk.

Orang tua pun juga dibuat pusing, terlebih orang tua yang tidak memahami perkembangan situasi. Seperti beberapa waktu lalu terjadi peristiwa orang tua memarahi kasir minimarket karena anaknya baru top up/isi saldo game online. Dengan kepolosannya orang tua meminta si kasir bertanggung jawab dengan cara mengembalikan uang sejumlah 800.000 tersebut.

Orang tua mungkin bingung, kok bisa uang 800.000 dibelanjakan tetapi bentuk fisiknya tidak terlihat? Hanya berupa angka-angka di layar HP? Meski pada akhirnya orang tua tersebut mengakui kesalahan dan meminta maaf pada si kasir.

Orang tua ingin anaknya bahagia

Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia? Namun yang kerap terjadi adalah kesenjangan dalam memahami situasi.

Tidak ada yang salah dengan playstation, warnet ataupun HP Android. Itu hanya perangkat. Tak ada yang salah juga dengan pemilik rental, warnet atau penjual voucer game.

Model-model bisnis atau transaksi pun juga berbeda. Uang tidak lagi selalu dalam bentuk fisik, ada uang digital, hanya dalam bentuk angka. Tinggal pencet sana sini kita bisa membawa pulang snack atau barang-barang di minimarket.

Terkait game tersebut, bisa menjadi problem serius jika orang tua tidak lekas memahami kondisinya, sebab di masa pandemi ini banyak aktivitas beralih ke ponsel pintar. 

Orang tua harus tahu apa saja aktivitas yang bisa dilakukan lewat ponsel pintar tersebut. Sementara, anak-anak bisa sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Orang tua kadang justru yang tertinggal.

Menghentikan anak-anak bermain game jelas akan sangat sulit, terutama bagi mereka yang sudah menemukan keasyikannya. Itu bisa memicu konflik dengan anak.

Membiarkannya pun kadang juga bukan hal yang bijak, apalagi ketika game lebih diprioritaskan dari belajar di sekolah. Kuota habis bukan untuk sekolah, namun untuk main game.

Kondisi ini membuat orang tua memahami bahwa ternyata belajar tidak hanya jadi tugas mereka para siswa, para orang tua pun juga demikian. Bisa jadi belajar memahami anak sendiri adalah salah satu bagian yang tersulit. Belum lagi jika harus belajar beradaptasi dengan perkembangan teknologi. []

Blitar, 18 Mei 2021
Ahmad Fahrizal Aziz