Cari tulisan berdasar topik

Kamis, 15 Agustus 2019

Daging Kurban, Setahun Kemudian




Senin, 12 Agustus 2019

Sekarang banyak yang ingin berkurban. Semangat memberi (atau memiliki sendiri) sangat tinggi. Tidak hanya orang kaya, namun orang ekonomi menengah juga punya semangat tersebut.

Jika dulu mungkin trennya orang kaya berkurban untuk dibagikan pada yang belum kaya dan miskin, sekarang bisa menabung. Kelompok yasinan misalnya, membentuk beberapa kelompok beranggotakan 7 orang, untuk iuran wajib selama setahun dengan nominal tertentu, yang nantinya dibelikan sapi.

Sementara yang individu, rela menabung untuk membeli satu ekor kambing, yang kelak dijadikan hewan kurban.

Semangat berbagi daging kurban lebih tinggi dibanding sebagai penerima. Maka di daerah yang kultur agamanya kuat, satu rumah bisa mendapatkan beberapa bungkus daging kurban, karena makin banyaknya yang berkurban.

Daging kurban banyak yang tertimbun di freezer, bahkan sampai jelang iduladha berikutnya. Ajaib bukan?

Maka jangan heran, jika mushola kecil saja bisa berkurban beberapa ekor sapi. Sebab persiapannya memang sudah setahun sebelumnya. Tiap 7 orang, dari sekian puluh jamaah.

Kiriman daging kurban bisa datang dari Masjid dan Mushola, dan itupun bisa beberapa, belum lagi yang di luar itu. Belum lagi yang atas nama organisasi massa (ormas).

Di beberapa tempat, pembagian hewan kurban pun akhirnya merata. Tidak terlepas kaya atau miskin. Semua berdasar kuota. Tiap rumah dapat. Tidak peduli apakah rumah itu di kulkasnya ada stok daging harian atau tidak.

Jika pada mulanya daging kurban diperuntukkan pada mereka yang jarang makan daging, kini tidak lagi. Bahkan yang kerburban pun bisa dapat bagian lebih banyak, sekalipun tergolong mampu.

Maka jangan heran, jika banyak yang stok daging kurbannya sampai terkubur di freezer selama setahun berikutnya. []

Ahmad Fahrizal Aziz