Haji Perpisahan Mbah Maimoen Zubair



Rabu, 7 Agustus 2019

Bisa disebut ini adalah haji perpisahan (wada') dari Mbah Maimoen Zubair. Kyai sepuh yang kharismatik.

Banyak yang ingin seperti beliau ; berumur panjang, berilmu tinggi, dan sehat. Mbah Maimoen nampak sehat, hanya fisiknya memang sudah renta. Sudah 91 tahun, melebihi batas usia rata-rata orang zaman sekarang.

Bisa tetap aktif diusia sepuh itu, sungguh suatu berkah. Bahkan ketokohannya bisa meredakan perpecahan parpol berlambang Ka'bah itu, sejak pemilu 2014 silam.

Selintas melihat beliau di televisi, yang harus pergi ke Istana, atau menghadiri acara parpol, terasa begitu besar energinya, juga betapa sosoknya sulit tergantikan. Sampai harus "turun gunung" mendamaikan juniornya, dan mampu menjalin relasi baik dengan Presiden.

Atau mungkin juga muncul kegundahan di hati beliau, ketika tahu ada dua elit parpol yang dibesarkannya itu terjerat kasus korupsi secara beruntun. 

Padahal Mbah Moen sendiri terkenal sangat berhati-hati untuk urusan uang. Makanya, sekalipun pernah menjadi anggota DPRD Rembang dan MPR RI, beliau masih berdagang, dan hasil dagangnya itu untuk menafkahi keluarga.

Uang dari politik untuk kepentingan politik, dan seterusnya. Kehati-hatian yang mungkin langka kita temui pada elite politik sekarang ini, yang hidupnya super mewah.

Mbah Moen juga membabat sendiri pondok pesantrennya, dari Mushola kecil, lalu berkembang menjadi madrasah, dan selanjutnya menjadi pondok pesantren.

Sosoknya kemudian menjadi magnet kuat pesantren tersebut, hingga menjadi legenda, hingga menjadi ulama kharismatik. Mbah Moen tidak mewarisi pesantren yang sudah besar, namun benar-benar membangunnya dari awal.

Dari sisi ini sosoknya sangat inspiratif. Ilmu menjadi gairah utamanya, sekalipun jalur pendidikan yang ditempuhnya sangat zigzag, dari Ulama satu ke ulama lainnya, seperti pengembara.

Masih tak menyangka jika beliau akhirnya dipundut yang maha kuasa di tanah suci, saat sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Tak menyangka pula jika video beliau menyentuh hajar aswad dengan pengawalan khusus beberapa waktu lalu, menjadi momentum untuk terakhir kalinya.

Dan tak menyangka pula beliau dimakamkan di sana, mengingat begitu besar ketokohannya, tentu banyak santri yang berharap agar beliau dimakamkan tak jauh dari pesantrennya, agar bisa diziarahi kapanpun.

Banyak yang berharap demikian, namun mungkin kondisi tak memungkinkan. Apalagi penerbangan dari Jeddah ke Jakarta tentu butuh cukup waktu. Mbah Moen dimakamkan dekat makam Ulama Nusantara lainnya, seperti Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Ahmad Khotib Al Minangkabawi, dan lainnya di Jannatul Muala.

Taman surga. Makamnya para pengembara ilmu. []

Ahmad Fahrizal Aziz
Just-fahri.blogspot.com

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik