Cari tulisan berdasar topik

Jumat, 04 Oktober 2019

Saya Bukan Kutu Buku



Jumat, 4 Oktober 2019

Kadang saya lebih memilih meletakkan buku, menyimpannya dalam tas atau jok motor, dan mulai menikmati perbincangan yang ada.

Bahkan saat berada di dalam gerbong kereta api, saya memilih diam sambil memerhatikan pemandangan : hamparan sawah, kebun, jalan raya, atau deretan perumahan.

Buku memang istimewa, namun tidak satu-satunya yang menarik untuk dibaca. Ada banyak hal mengesankan lainnya, yang sebenarnya juga penting untuk direnungi dan dihayati.

Namun ada kondisi ketika membaca buku lebih menarik, ketimbang mendengarkan ocehan tak bermutu. Ya, lebih baik menyesap kopi sambil menikmati barisan kata yang tertuang dalam buku, ketimbang masuk dalam obrolan yang tak menyumbang hal positif untuk otak.

Begitulah kiranya, orang sering menyebut saya kutu buku. Padahal buku adalah "jembatan" pemikiran. Ketika penulisnya adalah orang hebat, profesional, penuh dedikasi, yang belum tentu bisa dengan mudah kita temui untuk sekadar berbincang, buku menjembatani pikiran satu dengan lainnya.

Seorang penulis mencoba menghasilkan suatu gagasan, atau sekadar bercerita, yang mana keduanya akhirnya dibaca, dinikmati, dan diresapi oleh pembacanya, yang bisa jadi melintasi ruang dan waktu.

Membaca buku adalah cara lain berkomunikasi dengan penulisnya, lewat diksi demi diksi yang disajikan, sang penulis menuangkan apa isi kepalanya, hingga apa yang ia rasakan, gelisahkan, dan harapkan.

Sebab itulah menariknya membaca buku, suatu area privat yang membangun. Sering saya lakukan sendiri, di dalam ruangan 3x4 meter yang dindingnya penuh dengan tempelan gambar, yang biasa saya sebut kamar tidur.

Padahal tidak hanya untuk tidur. Ruang itu lebih cocok disebut ruang privat. Suatu area paling bebas di muka bumi, tempat segala kealamiahan manusiawi bisa saya ekspresikan. Sebab itu tidak sembarang orang bisa kita ijinkan masuk.

Mungkin pada ruang sempit itulah, saya dan buku jadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Lekat seperti kutu. 

Namun pada ruang komunal : di jalan, trotoar, warung kopi, taman, dan tempat umum lainnya, saya teramat jauh dari buku.

Sebab ada kalanya, melihat senyum seseorang lebih menarik ketimbang memelototi barisan huruf dan angka. Mendengar renyah sapanya lebih menggairahkan ketimbang sajian sketsa dan ilustrasi di antara sampul dan halaman penutupnya. []

Kedai Muara
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...