November yang Sepi




Jumat, 1 November 2019

Tiba-tiba saya rindu suasana Malang, atau Jogja, di penghujung tahun seperti ini. Menatap air dari langit tumpah dan membasahi jalanan, atap gedung, pepohonan, hingga lalu lalang pengendara.

Pada sore yang syahdu, di tengah cuaca mendung, saya mampir di sebuah kafe. Duduk dekat pintu masuk, berdinding kaca, berharap hujan lekas turun.

Sembari mendengarkan lagu-lagu Indonesia era satu dekade silam. Sepertinya saya dan operatornya punya selera yang sama, atau usianya memang tak berjauhan. Dia masih mendengarkan lagu-lagu hits yang saya dengarkan saat masih berseragam putih abu.

Sembari iseng mengirimkan sebuah pesan via WAG pada teman-teman yang berada nun di kejauhan sana : November yang sepi. Tulis saya, melengkapi caption foto secangkir matcha latte dan buku karangan Soedjatmoko.

Lekas salah seorang menjawab. -Memang sejak kapan kamu tak merasa kesepian?

Apalagi di Kota ini. Sebab 7 tahun hidup dalam hiruk pikuknya kota Malang, juga sesekali menjajal asyiknya tinggal di Jogja, menyatu dalam derap nafas kehidupan di daerah bekas ibukota.

Jadi, sampai kapan kerasan di Blitar? Tanya seseorang. Memang pertanyaan aneh. Saya kan orang Blitar?

Jangan bayangkan Blitar satu dekade silam, ketika untuk mencari tempat nongkrong yang representatif saja, sulitnya minta ampun.

Saat ini, kafe-kafe membiak. Barisan kopi tersaji, beserta nama-nama asing yang tertulis di buku menu. Hei, Blitar, Malang, Jogja, tiada beda sekarang ini.

Blitar juga menawarkan suasana, dan sudah 4 tahun ini saya bertahan, dengan segala proses adaptasinya.

Kadang kangen juga. Sesekali, kadang ingin kembali, memulai hidup di belahan kota yang sejak lama diingini. Malang atau Jogja, dua pilihan yang selalu menggairahkan.

Di kota yang sesepi Blitar ini, keramaian lebih pada deru kendaraan dan lalu lalang manusia. Sembari berharap ada obrolan-obrolan segar yang menguatkan selera, bertemu sosok-sosok yang membuatmu betah duduk mengitari gelas-gelas kopi, sampai malam melarut bersama tubuh yang sudah meminta jatah untuk berebah.

Saya sudah bertahan sejauh ini, namun mungkin mereka benar. Rasa sepi sesekali menghinggapi. Entah karena apa? Kurangnya teman? Oh tidak.

4 tahun mungkin belum cukup untuk menggantikan hari-hari panjang di kota tetangga, sekalipun hanya berjarak 94 km.

Atau hanya rindu? Tiap kali saya kembali ke kota dingin itu, nyatanya semua sudah berbeda. Satu per satu teman juga sudah kembali, hanya sebagian yang menetap dengan beragam kesibukannya.

Hujan, datanglah. Lekas. Bantu saya mengingat, mengenang, dan bersyukur atas hidup yang menakjubkan ini. Di sela menikmati Matcha latte pada sore yang lengang dan sepi, di kota tempat kelahiran ini. []



Fx Labs and Resto
Ahmad Fahrizal Aziz

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik