Passion - Gairah dan Kebahagiaan Hidup


Oleh :
Ahmad Fahrizal Aziz

Ilham tak bisa lepas dari musik, begitupun Indra yang tak bisa lepas dari sepak bola. Bahkan dia rela mengambil home schooling agar punya cukup waktu untuk latihan di lapangan.

Vitha juga begitu, baginya mendesain busana adalah kebahagiaan, sekalipun kuliahnya mengambil sastra.

Mereka sebagian orang yang saya temui waktu di Malang, yang menjelaskan arti passion. Sembari menyakinkan pada diri saya bahwa secara sederhana, manusia di muka bumi hanya terbagi dalam dua kategori : passionable dan adaptable.

Dalam hal pekerjaan, dua tipe ini juga ada. Kenapa seorang rela meninggalkan pekerjaan mapan dengan gaji besar, beralih ke wiraswasta dengan pendapatan hanya separuhnya. Alasannya, karena itu passionnya.

Naif? jelas tidak. Bagi seorang adaptable itu terkesan aneh. Namun bagi seorang passionable, itu kepuasan.

Bagaimana rasanya tersiksa batin, bekerja di bawah target atau pada hal yang tak sejalan dengan hati dan pikirannya. Sekalipun pendapatannya tinggi, atau setidaknya cukup untuk menopang hidup.

Saat ia punya passion, dan berkesempatan untuk memilih, maka ia akan berpindah. Namun ketika passion belum ia temukan, dan tak ada ruang aktualisasi, maka perlahan passion itu akan ia bunuh sampai benar-benar mati.

Betapa repotnya seorang passionable, ketimbang seorang adaptable, yang bisa dengan mudah meleburkan diri pada banyak bidang, dengan cukup hanya mempertimbangkan nominal atau sebentuk nilai ; asalkan itu baik.

Tak peduli apakah ini passion saya atau bukan, yang penting tetap bisa survive. Hidup seorang adaptable itu landai, flat, tanpa naik turunnya grafik.

Beda hal dengan tipe passionable. Banyak hal yang perlu ia perjuangkan, apalagi ketika keluarga tak cukup mendukung. Naik turunnya tajam, bahkan bisa pada taraf hopefully sampai hopeless.

Keunggulannya, seorang passionable mampu menciptakan lompatan besar. Seorang yang penuh dedikasi, keseriusan, tercermin dari nada bicara dan sorot matanya.

Lantas apa itu passion?

Ada yang mengatakan itu sama dengan hobi. Apa itu hobi? dari bahasa arab al hubb (cinta/kecintaan) hubbi (kecintaanku). Sesuatu yang disenangi, dicintai, itulah hobi. Apapun bentuknya.

Tidak selalu bidang seni dan olahraga. Kadang juga hal lainnya, selama itu dijalani dengan penuh dedikasi, kecintaan, dan kepuasaan. Ada rasa bahagia menjalaninya, sekalipun tak sedikit hambatan serta rintangan.

Sebab ada juga yang tersungkur karena memerjuangkan passionnya, namun ada juga yang menemukan titik kepuasan maksimal. Kepuasan batin terutama, kepuasan materi selebihnya. Sebab passionable tidak selalu melarat, misalnya seorang musikus, selebritas, atau pengusaha.

Passion adalah sesuatu yang perlu digali dan dicari, sampai kita merasa senang menjalaninya, dari rasa senang itu muncul produktifitas.

Sebab itu pengalaman menjadi faktor penting, semakin banyak pengalaman semakin kita bisa memilah dan memetakan passion kita sendiri.

Lalu sudahkah kita menemukan passion hidup kita? apakah yang kita jalani selama ini sudah sesuai passion?

Mungkin, coba direnungi, dihayati, dan dikhidmati. Jika selama ini masih muncul semangat, rasa senang, dan minim pertentangan batin dan logika. Bisa jadi itu passion.

Jika memang tak ada lagi pilihan untuk dikerjakan, maka kerjakanlah apa yang ada dengan penuh passion. Atau jika kita tipe adaptable, ah, buat apa repot-repot memikirkan passion. []

Blitar, 22 Januari 2020
www.muara-baca.or.id

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik