Reynhard


Senin, 6 Januari 2020

Lagi, kasus kejahatan mengerikan muncul, dan menguatkan kembali isu LGBT.

Nama pelakunya tidak perlu disebut, juga tidak perlu lagi dijelaskan kronologinya. Sudah banyak media yang menulis, dan sangat viral.

Isu semacam ini memang cepat viral, karena melibatkan jumlah yang fantastis, dan isu yang juga kontroversi. Pelakunya seorang gay, penyuka sesama pria, dengan hasrat yang kelewat batas.

Memang cukup unik dan menggelitik, ketika media menulis ada lebih 800 video ditemukan, dengan potensi kasus sejumlah 190 kali dengan korban sementara 48 orang. Bisa bertambah?

Betapa beringasnya, juga betapa mengejutkannya. Itu bukan angka yang sedikit, apalagi melihat usianya yang belum genap 40 tahun.

Juga dengan perawakan tubuh serta wajah yang tak bisa disebut standar. Dia fashionable, plus berlebih secara materi. Tinggal di sebuah negara maju dengan biaya hidup yang tinggi pula. Kenapa harus melakukan kekerasan?

Terlepas apa orientasi seksualnya, kenapa tidak memilih menjalin hubungan pada umumnya? Memiliki kekasih dan menjalani hari-hari sebagai pasangan.

Atau jika keberatan dengan status, bisa mencari pria bayaran. Barangkali ada. Setidaknya, masih pada batas umum, ketimbang melakukan kekerasan : menaruh obat tidur, lalu berbuat kejahatan.

Namun jika memang punya masalah psikologi, atau karena merasa itu menimbulkan sensasi tersendiri, ya entahlah. Seperti layaknya Eksibisionis, masokis, atau pecandu BSDM.

Jika demikian, kasus ini murni kejahatan, bukan karena dia gay lalu beringas. Apalagi dilakukan di negara yang sudah super bebas, yang seharusnya tidak perlu sampai bertindak jahat untuk melampiaskan orientasi seksualnya.

Aneh bin ajaib. Biasanya orang mengalami tekanan psikologis dan berbuat jahat, justru ketika ada pembatasan dan ketabuan.

Katakanlah, jika kasus ini terjadi di Indonesia, ketika hubungan sesama pria sudah pasti ditentang habis-habisan oleh lingkungan, bahkan diharamkan oleh agama.

Masalahnya, kasus ini terjadi di Inggris, negara yang masing-masing orang tak terlalu mencampuri urusan privat, apalagi orientasi seksual. Bahkan tak sedikit publik figur yang secara terang-terangan menyatakan dirinya gay, dan memiliki kekasih sesama pria.

Apapun itu, kejahatan tetaplah kejahatan. Entah di negara bebas, semi bebas, atau tertutup sekalipun.

Kejahatan yang dilakukan demi sensasi, kepuasan pribadi, yang merugikan orang lain.

Sayang, kasus ini lekas dibungkus dengan isu LGBT, padahal ada sisi psikologis yang harusnya dipahami, kenapa dia melakukan itu dan sensasi apa yang didapat?

Publik kerap kali dibuat salah fokus. []

Ahmad Fahrizal Aziz
www.muara-baca.or.id

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik