Cari tulisan berdasar topik

Rabu, 01 Januari 2020

Tak Hanya Hatimu, Perpustakaan Juga Makin Sepi




Rabu, 1 Januari 2020

Untuk apa orang berkunjung ke perpustakaan? Diam-diam saya mengamati dan menanyai sebagian pengunjung, sejak setahun terakhir ini, ketika berkunjung ke perpustakaan proklamator Bung Karno (PBK).

Ada yang datang karena mencari referensi untuk tugas sekolah/kuliah, ada yang datang untuk sekadar memanfaatkan wifi, ada juga yang berkunjung karena program dari sekolah.

Lalu, berapa yang benar-benar berkunjung karena ingin membaca, untuk upgrage informasi dan wawasan?

Berapa yang berkunjung ke rak buku sastra, atau rak buku-buku sejarah yang kini sebagian dipindah ke lantai bawah?

Ya, tentu masih banyak yang berkunjung ke PBK, dibanding perpus daerah dan perpus sekolah. Tempatnya lebih nyaman, fasilitasnya lebih menunjang.

Pelajar yang hemat kuota bisa menghabiskan waktu di sana, begitu pun dengan mahasiswa yang dikejar dateline proposal dan skripsi, yang bisa bolak-balik mencari referensi tanpa perlu berpindah tempat dan membawa bukunya pulang.

Kadang, saya juga menemui bapak-bapak yang duduk syahdu di dekat rak majalah, sembari khidmat membaca koran.

Ritual mingguan saya setiap Jumat, menengok topik apa yang diangkat oleh majalah Tempo dan Gatra, juga sesekali membaca opini di Kompas dan Jawa Pos.

Pada hari yang berbeda, berkumpul dengan komunitas, membahas teknik menulis, buku-buku, dan yang berkaitan dengan itu.

Pada beberapa momentum, saya melihat kursi dan meja yang sepi, kadang juga ramai, terutama di lantai atas pada siang hari.

Dulu, antara pertengahan 2015-2016, sering saya ke PBK pagi hari, saat banyak orang bekerja dan tak sempat berkunjung. Menikmati deretan kursi yang kosong serupa rumah pribadi.

Maklum, jam perpustakaan adalah jam kantor atau jam dinas, kala orang-orang lain juga sedang bekerja. Siswa/i juga masih di sekolah, mahasiswa/i sebagian juga ada jam kuliah.

Ketika mereka pulang, pegawai perpustakaan juga sudah pulang. Sama-sama pulang.

Pilihan rehat dari kepenatan hari itu ya warung kopi, kafe, pedestrian, atau taman kota.

Maka, sebagian pejuang literasi menyambutnya dengan menggelar lapak-lapak buku. Boleh dibaca, kadang juga boleh dipinjam, kadang juga tak kembali.

Berkunjung ke perpustakaan jadi alternatif yang mungkin tak lagi diperhitungkan. Apalagi setelah ada internet, ada mesin pencari data, ada ebook, e-perpus, dan unggahan-unggahan bebas di sosial media.

Tak hanya hati manusia, perpustakaan pun lambat laun juga makin sepi. Mungkin akan jarang yang membaca di tempat, alhasil kesibukan utama adalah layanan pinjam dan kembalikan buku.

Lambat laun, buku-buku tak lagi dipinjam, ketika fasilitas e-perpus sudah memadahi. Buku-buku hanya tertata di rak, dirawat, namun sudah jarang dibaca.

Perpustakaan akan dikunjungi untuk koleksi koran dan majalahnya, atau bertahan lewat program kajian dan diskusinya : seminar, bedah buku, dan sosialisasi.


Tak masalah perpustakaan makin sepi. Seperti halnya pak pos yang tak lagi mengirimkan surat cinta, teller bank yang tak lagi melayani transaksi perbankan, atau penikmat musik yang tak lagi memutar VCD.

Namun proses ketiganya tetap berjalan, dengan cara dan ruang yang berbeda, seperti halnya membaca. Meskipun buku tetap punya rasa dan sensasinya sendiri ketika dibaca.

Sirah Kencong,
Ahmad Fahrizal Aziz