Cari tulisan berdasar topik

Kamis, 27 Februari 2020

Jalan Hidup Sebagai PNS


Kamis, 27 Februari 2020

Sekalipun kita masuk pada era 4.0 menuju 5.0, rasanya profesi PNS tidak akan memudar daya tariknya. Tetap akan banyak pendaftarnya, tetap akan menjadi cita-cita banyak orang. Apalagi menjadi PNS di sektor BUMN.

Dari era 1.0 hingga 5.0, PNS memang bukan "profesi khas". Sebut saja, mulai era 2.0, profesi khas pada era itu adalah petani. Ketika "peradaban dapur" mulai terbentuk, mengakhiri era berburu dan nomaden (1.0).

Dari 2.0 ke 3.0, menjadi karyawan perusahaan atau pekerja profesional, adalah suatu dambaan. Tatanan global berubah sejak revolusi Industri terjadi. Muncul perusahaan raksasa yang membutuhkan para pekerja profesional.

Pada era inilah spesifikasi keahlian mulai dibutuhkan, bidang-bidang profesi mulai terwadahi. Kampus pun mulai membuka jurusan-jurusan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Pengaruh era 3.0 sangat kuat, hingga sekarang. Sementara lahirnya blogger, youtuber, kreator konten, pro endorser, dan bidang kerja kreatif sejenis adalah ciri era 4.0. Era yang memanfaatkan teknologi informasi.

Ojek online dan les privat online adalah profesi lama yang mendapat sentuhan era 4.0.

Menuju 5.0 atau era digital. Semua akan memanfaatkan teknologi. Sekarang sudah dimulai. Teller bank mungkin tak akan dipekerjakan lagi, sebab nabung dan transfer bisa lewat ponsel.

Ingin buka usaha, tak perlu lagi tempat strategis. Sebab memasarkannya bisa lewat app jual beli online, atau aplikasi ojek online.

PNS termasuk salah satu profesi yang tak tergerus zaman. Dalam teorinya Plato, termasuk bagian dari tumea atau tumos. Ada kebanggaan, selain dari sisi gaji. Kebanggaan ketika berseragam dan berpangkat.

Hal yang sama juga terjadi pada profesi polisi dan tentara. Sampai kapanpun akan kuat daya tariknya.

Sekalipun kampanye agar menjadi entrepreneurship juga makin gencar. Ajakan agar menjadi bos pada usaha sendiri. Dalam kampanye ini, profesi yang paling banyak dikritik adalah PNS.

Minim kuota, banyak peminat, dan gaji standar. Padahal bagi seorang PNS, gaji bukan jadi patokan utama. Siapapun tahu standarisasi gaji PNS. Ada yang besar dan ada yang sedang, tetapi tak ada yang kecil, kan?

Selain gaji, status sosial juga bagian penting, pengaruh dan akses jaringan ke dinas. Apalagi jika memiliki jabatan struktural. Rekomendasi atau parafnya sangatlah berharga.

Menjadi PNS di bidang kesehatan misalkan, berkesempatan mendeliver program ke masyarakat, kesempatan untuk menolong banyak orang agar senantiasa hidup sehat.

Menjadi guru apalagi, kesempatan untuk mencerdaskan murid, suatu amal yang sangat mulia. Fokus untuk mendidik, sementara fasilitas lain biar diurus negara.

Selain gaji, PNS punya akses lebih besar untuk berbuat sesuatu pada masyarakat. Dalam keyakinan hidup orang Jawa, ada dua pilihan hidup : mulya (berkecukupan secara ekonomi) atau mukti (bermanfaat).

Dahulu mereka yang memilih mukti, akan menjadi abdi dalem kerajaan dengan gaji ala kadarnya. Namun hidupnya terjamin. Mereka yang memilih mulya, berdagang.

PNS mungkin masuk mukti, namun gaji PNS dan segala aksesnya kini kan sudah cukup untuk hidup mulya?

Kedai Ingkung Dhiva-Bangsri
Ahmad Fahrizal Aziz