Cari tulisan berdasar topik

Jumat, 14 Februari 2020

Kesepian Substansial


Rabu, 12 Februari 2020

Sepi berbeda dengan kesepian. Kesepian itu bisa terjadi dalam beragam kondisi.

Saat kita berada di rumah sendirian, itu namanya sepi. Begitupun ketika jalanan lengang, atau ruangan tak berpenghuni, terlihat sangat sepi.

Namun kesepian itu bisa lebih dalam lagi. Suatu perasaan hati yang kosong, pikiran yang tak bertaut, dan tak adanya ikatan emosional.

Bisa jadi ia tinggal di sebuah kompleks perumahan yang ramai, bertemu banyak orang setiap harinya, namun merasa kesepian.

Kesepian bukan karena kurangnya teman atau kenalan, namun karena antara satu dan lainnya tidak mampu terikat secara emosional.

Selain asmara, keterikatan batin juga bisa dari sisi pemikiran, level pengetahuan, hingga ideologi dan agama.

Mungkin kita pernah merasa sangat bosan berkumpul dengan sekelompok orang, yang topik obrolannya (menurut kita) remeh temeh, kurang berbobot, dan itu-itu saja.

Ya, sekalipun kita berada dalam satu meja yang sama, berbincang banyak hal, namun seperti ada kekosongan tersendiri.

Ini bisa terjadi karena level pemikiran dan pengetahuan kita berbeda dengan mereka. Bisa jadi karena beda bacaan, tontotan, atau pergaulan.

Bukan berarti kita merasa lebih tinggi levelnya dan lainnya lebih rendah, sebab kita sendiri kadang tak menyadari seberapa berkembangnya pemikiran dan pengetahuan kita, sampai merasakan "kesepian" itu.

Namun ketika kita bertemu dengan seseorang atau kelompok komunitas, yang bisa nyambung, yang mereka juga ngeh dan paham apa yang kita ucapkan. Malah dalam kelompok itu ada banyak hal baru yang kita dapat, terasa ada kelegaan tersendiri. Kesepian yang terobati.

Maka sebuah komunitas atau organisasi bisa menjadi support system, yang meramaikan hidup kita, dan menghindarkan dari kesepian.

Namun support system utama adalah keluarga. Dalam keluarga ada orang-orang yang satu sama lainnya saling memikirkan, menanyakan kondisi, dan orang pertama yang kita ingat saat terjadi sesuatu. It's family.

Saat jauh dari mereka, kita akan kesepian. Namun dalam kesepian itu masih punya pikiran untuk kembali.

Saat merantau, ada kesenangan untuk pulang kampung. Saat bepergian, ada pikiran untuk membelikan oleh-oleh sebagai wujud rasa syukur dan bahagia atas suatu perjalanan yang telah dilalui.

Ada sekelompok orang yang ingin kita berikan persembahan, juga kita ajak bercerita banyak hal.

Jika itu semua hilang, maka kita masuk pada lorong kesepian yang akut. Kesepian yang substansial.

Kenapa harus pergi dan kembali, kenapa harus berjuang dan berkorban. Kenapa harus saling mendoakan. Kenapa harus merindukannya?

Saat tak ada lagi yang dirindukan, didoakan, dan diperjuangkan, juga sebaliknya. Ada suatu kehampaan yang sulit dijelaskan. Mungkin itulah kesepian, yang substansial. []

Kedai kopi kaloka
Ahmad Fahrizal Aziz