Tentang Legenda Nike Ardilla


Jumat, 7 Februari 2020

"Belum buka mas," Ucap seseorang, di kompleks perumahan Arya Graha, Bandung.

Padahal butuh perjuangan bisa sampai tempat itu, disela menanti jadwal kereta api yang saya tumpangi berangkat.

Ada salah satu rumah istimewa yang ingin saya kunjungi, museum Nike Ardilla. Penyanyi pop rock legendaris era 90an, yang meninggal ketika karirnya sedang memuncak.


Kala itu, tahun 2014, belum ada ojek online, sekarang bisa lebih mudah menuju ke lokasi itu, tinggal order dari stasiun Bandung.


Kenapa Nike Ardilla? Sebab betapa melegendanya penyanyi ini. Lagu-lagunya terus muncul, hingga era YouTube sekarang ini.

Kecantikannya juga abadi. Sebab ia tak sempat menjadi tua, meninggal dunia saat masih kinyis-kinyis, kata orang Jawa.

Fans beratnya rutin memeringati hari lahir, dengan foto yang sama, foto cantik kala usia 19 tahun. Padahal jika masih hidup usianya kini sudah 44 tahun.

Kala Nike meninggal dunia, saya masih TK. Tidak ingat sama sekali sepopuler apa dulu sosok Nike Ardilla.

Menginjak kelas 5 SD, saya mulai mengerti musik. Sering beli kaset bajakan di pinggir jalan, juga menonton MTV dan acara musik lainnya, nama Nike Ardilla kerap kali diulas. Padahal orangnya sudah meninggal.

Kasetnya pun masih bisa didapatkan, radio-radio masih memutar lagunya, bahkan seingat saya ada radio yang membuat program khusus tentang Nike Ardila. Topik yang dibahas dan lagu yang diputar all about Nike Ardila.

Di lapak-lapak koran, poster Nike Ardilla juga masih dijual. Pernah saya mau membeli posternya, yang berambut pendek, pose samping dengan sorot mata tajam dan ekspresi datar.

Namun kakak sepupu saya melarangnya, sebab takut jika poster itu tiba-tiba tersenyum. Horor kan? Padahal toh, senyumnya pasti manis.

-00-

Karya Nike Ardilla itu abadi, meski orangnya sudah tiada. Jutaan orang masih mendengarkan Bintang Kehidupan, Seberkas Sinar, atau Deru Debu.

Puluhan atau malah ratusan orang masih menyanyikan ulang lagunya, mengover, merekam dan membawakannya di atas panggung.

Dia peraih Gold Prize Asian Song Festival 1991. Dia juga bagian dari 9 tokoh musik legendaris versi PAPPRI. Tokoh lainnya masih eksis hingga sekarang, sebut saja Rhoma Irama, Anggun C. Sasmi, Titiek Puspa, Ebiet G Ade, dan Iwan Fals.

Jadi tokoh musik legendaris di usia 19 tahun, usia pamungkas dalam karir musiknya. Kita semua bisa membayangkan betapa populernya seorang Nike Ardilla, di usia (karir) 19 tahun sudah disejajarkan dengan musisi gaek di atas.

Mungkin juga tak lepas dari fans beratnya, yang terus membuat nama Nike berkibar, sering juga mengadakan kegiatan di museum Nike Ardilla.

Bisa juga karena kualitas vokalnya, sebagai lady slow rock. Bukan lady rocker seperti Nicky Astria dan Anggun. Nike Ardilla punya ruangnya tersendiri. Menandai kebangkitan musik slow rock era 90an, dan slow rock kembali redup tatkala Nike meninggal dunia.

Hingga sekarang, lagu-lagu Nike Ardilla terus berkibar. Apalagi saat ini adalah era penyanyi cover, lagu lawas dipoles dengan iringan akustik atau perubahan aransemen.

Ketika lagu-lagu Nike Ardilla dibawakan penyanyi cover, generasi Y dan Z mungkin mengira itu lagu baru. Baru ngeh setelah baca deskripsinya, bahwa itu lagu lawas yang didaur ulang.

Era Nike Ardilla sudah lama lewat. Waktu telah mengubur kejayaan musik 90an. Waktu lah yang Fana, namun Nike Ardilla abadi. Abadi lewat karya, lewat rekaman suaranya, lewat ingatan-ingatan yang tak kunjung pudar.

Andai hidup lebih lama, mungkin tak hanya Anggun yang kita kenal kini sebagai penyanyi Internasional.

Namun mungkin juga sebaliknya, seiring waktu popularitasnya akan meredup. Sebab betapa banyaknya penyanyi yang pada masanya super hits, perlahan hilang dan lenyap dari panggung hiburan.

Karir Nike Ardilla mungkin memang ditakdirkan singkat, namun lagu-lagunya terus berdendang hingga kini. Nike masih hidup lewat dimensi rasa yang berbeda. []

Bumiaji,
Ahmad Fahrizal Aziz
www.muara-baca.or.id

Sumber foto : Instagram @nikeardillaofficial, ayobandung.com dan traveller

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik