Di Antara Roti Panggang



Senin, 4 Mei 2020

Bukan roti bakar, namun roti panggang. Kata seorang teman.

Namun ada juga yang menjelaskan bahwa roti panggang dan roti bakar itu dua jenis yang berbeda.

Roti bakar disajikan dengan api/gas, sementara roti panggang dengan toaster dan oven.

Meski sebagian kafe menulis menu roti bakar menjadi roti panggang alias ropang. Sedangkan banyak yang menggunakan nama roti bakar, terutama penjual yang menggunakan gerobak.

Sering kita temui tulisan : Roti Bakar Asli Bandung.

Saya lebih suka menyebut roti panggang, karena sekalipun dipanaskan dengan kompor gas, rotinya tidak langsung tersentuh api. Sama ketika menggunakan alat panggang modern, electric toaster.

Ropang adalah salah satu makanan favorit saya, entah sejak kapan. Apalagi ropang selai kacang.

Saking favoritnya, sampai membeli teflon, roti tawar, dan selai sendiri untuk persediaan di rumah.

Kadang juga menambahinya dengan keju dan margarin, jika pakai meses.

Saat tinggal di Ma'had, di deretan etalase kue dan gorengan, ada roti panggang kemasan, produk rumahan. Sepotong dihargai seribu rupiah.

Dua lembar roti tawar yang dilapisi selai, dipanggang, dipotong jadi dua, dan dikemas. Sepertinya begitu penyajiannya. Sehingga kemasannya berbentuk segitiga.

Ropang kemasan itu laris manis. Kadang sebelum dhuhur sudah habis, dikirim lagi sore hari, sebelum magrib juga sudah habis.

Banyak mahasiswa membutuhkannya, sebab kandungan roti sama dengan nasi, dikunyah sembari mengerjakan tugas atau mengganjal perut karena tak sempat sarapan, sementara jam kuliah sudah mepet.

Saat masih kuliah, saya pun jadi punya kebiasaan sarapan ropang itu, apalagi ketika ada jam pagi.

Kantin Ma'had sudah buka sejak pukul 06.00, begitupun koperasi mahasiswa. Aneka roti, terutama ropang kemasan itu, laris manis diserbu mahasiswa/i yang tak sempat mampir warung atau sarapan nasi.

Saat sedang nongkrong di kedai, tak jarang saya memesan roti panggang, dengan aneka variasinya, juga macam-macam toppingnya. Ada juga yang dibungkus daun pisang.

Ada ropang krunci dengan selai kacang, yang pernah saya cicipi di salah satu kafe Jogja.

Saat Ramadan seperti ini, kadang saya juga nyetok roti tawar, yang dipanggang sendiri dengan teflon. Pengganti takjil, atau dimakan satu jam sebelum tidur malam.

Kadang hanya dioles selai, namun bukan selai yang sering muncul di iklan YouTube itu, yang harganya bisa lebih mahal dari roti tawar brand bu Sari. Roti yang kadaluwarsanya kadang 3-5 hari berikutnya saat kita beli.

Di luar bulan ramadan, kadang saya juga sarapan roti. Koyok wong londo, kata bapak saya.

Itulah kenapa saya awet langsing, ujar bulek yang tahu kalau sarapan saya roti tawar. Padahal tak ada hubungannya. Toh sebelum mengenal ropang tiap pagi, sejak TK - SMA, sarapannya juga nasi. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz


0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik