Cari tulisan berdasar topik

Rabu, 06 Mei 2020

Kopi dan Wedang Jahe Saat Ramadan




Selasa, 5 Mei 2020

Penjual sayur keliling biasanya juga menjual jahe, satu atau dua rimpang dihargai seribu rupiah. Sehingga sering kehabisan.

Sampai saya inden. Meminta penjual sayur itu menyimpan dua rimpang setiap harinya.

Selepas shalat tarawih, biasanya saya menyeduh wedang jahe. Jahe digeprek, lalu diseduh dengan air panas, tanpa gula.

Tujuannya, untuk menghangatkan tubuh. Jahe memiliki khasiat yang baik.

Sembari membaca buku, mengetik, atau berselancar di sosmed, segelas wedang jahe biasa menemani.

Ketika nongkrong pun, wedang jahe lah jenis minuman yang sering saya pesan, utamanya jahe geprek.

Meskipun, kopi tetap jadi sajian utama. Selepas berbuka puasa dan sahur, secangkir kopi selalu tersaji.

Kala sahur terutama, untuk menjaga dari kantuk. Sebab tidur selepas sahur itu tidak enak. Ada sesuatu yang ganjil di perut. Sebaiknya, selepas sahur jangan tidur. Lanjut shalat subuh dan ibadah ritual lainnya.

Ada banyak hal produktif yang bisa dikerjakan selepas sahur. Misalnya, untuk menulis.

-00-

Pada awal puasa, sampai hari ketiga, kepala saya pusing selepas ashar, dan mereda selepas berbuka, tepatnya setelah minum kopi.

Mungkin saya kecanduan, sehingga menimbukan efek ketika tidak mengkonsumsinya dalam waktu beberapa jam.

Apalagi, saat mengikuti webinar tentang menjaga kesehatan di bulan Ramadan, salah satu praktisi kesehatan menyarankan agar tidak ngopi saat sahur. Kopi bersifat diuretik.

Namun hal itu saya langgar, dengan syarat tetap minum air putih yang cukup, terutama air hangat.

Masuk hari keempat sampai sekarang, pusing tidak lagi menyerang. Mungkin karena rutin ngopi? Sepertinya tidak. Bisa jadi terlalu banyak tidur dan nonton.

Awal puasa, selepas sahur sampai siang saya maraton menonton drama korea. Ada 20 episode, per episode durasinya sekitar 1 jam. 20 episode khatam dalam 3 hari.

Setelah menonton itu kepala saya pusing. Sebab mata juga butuh istirahat dari memandang ponsel. Bukan karena kurang ngopi, barangkali. []

Kedai MuaRa
Ahmad Fahrizal Aziz