Blitar Kota Seribu Tongkrongan


Oleh Fahrizal A.

Sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, Blitar termasuk yang tengah tumbuh dan berkembang. Termasuk makin banyaknya tempat nongkrong, entah yang berbentuk kafe, angkringan, atau kedai semi resto.

Kesannya sebagai kota pensiun perlahan luntur, sebab kota pensiun lekat dengan suasana sepi, lengang, derap modernitasnya pun tak begitu masif.

Banyaknya warung, kafe, angkringan dan semacamnya mungkin dianggap biasa. Daerah lain juga terjadi, bahkan lebih marak. Itu wajar jika terjadi di Malang, Sleman, Surabaya atau daerah padat penduduk dengan jumlah kampus dan gedung industri yang bejibun.

Sedangkan Blitar, tidak masuk 2 kriteria tersebut.

Blitar tidak menjadi kota tujuan utama untuk kuliah. Warga Blitar sendiri lebih memilih kuliah atau menguliahkan anak-anaknya keluar kota, yang menurutnya lebih maju. Misalnya ke Malang.

Untuk industri, apalagi. Memang ada beberapa industri besar, namun itupun berpusat di daerah pelosok. Misalnya industri pengolahan susu sapi yang konon terbesar di Indonesia.

Lalu siapa target konsumen dari munculnya banyak tempat nongkrong tersebut?

Ini masih menjadi misteri, dan perlu riset mendalam. Namun setiap kafe, apalagi kafe jaringan, pasti sudah melakukan riset pasar terlebih dahulu sebelum membuka cabang.

Misalnya saja, pada satu kawasan yang sama, ada 3 kafe jaringan yang berdiri. Diduga ketiganya melakukan riset pasar sehingga menemukan titik strategis untuk membuka kafe di situ, yang lokasinya tak jauh dari gedung pemuda (Graha Patria) dan Masjid Attaqwa Muhammadiyah.

Titik itu jadi strategis karena berdekatan dengan alun-alun, dan titik lalu lintas yang sering dilewati orang.

Uniknya, kafe jaringan itu cukup ramai. Padahal harganya kelas menengah, jika dihitung rata-rata UMR Blitar.

Ada juga kafe-kafe yang dimiliki penduduk lokal. Juga munculnya beberapa reviewer atau blogger, semakin mengesankan jika kafe atau tempat nongkrong di Blitar punya nilai keistimewaannya tersendiri, sehingga perlu direview oleh seorang blogger.

Padahal, bisa jadi mayoritas konsumennya adalah penduduk lokal Blitar. Mungkin ada pendatang, itupun tak signifikan. Rata-rata pendatang karena berwisata ke Makam Bung Karno atau destinasi lainnya, yang jarang sekali menginap.

Buktinya, hotel-hotel di Blitar belum tumbuh signifikan.

Munculnya banyak kafe atau tempat nongkrong itu bisa jadi karena warga Blitar mulai suka nongkrong, atau melakukan pertemuan formal dengan suasana informal agar terkesan santai.

Lalu buat apa nongkrong? Untuk berduaan dengan kekasih? Mungkin, namun bisa jadi faktor lain, yaitu tumbuhnya budaya nongkrong disebabkan 3 hal :

Pertama, mulai tumbuhnya pekerja kreatif dalam bidang digital. Pekerja kreatif ini tidak bekerja dalam suatu kantor, mereka bisa bekerja di mana saja, selama ada jaringan internet dan perangkat yang mendukung.

Kafe atau tempat nongkrong jadi tujuannya, selain memberikan kesan santai, juga memunculkan mood yang berbeda-beda, dibanding hanya di kantor yang monoton.

Kedua, tumbuhnya kelompok atau komunitas. Ini sangat berkaitan dengan ramainya tempat nongkrong. Mereka biasanya mengambil waktu sela di akhir pekan untuk berkumpul.

Kumpulnya bisa sekadar untuk rapat atau diskusi. Ruang-ruang diskusi juga tumbuh di tempat nongkrong, bahkan tak jarang ada apresiasi seni.

Tempat nongkrong dipilih untuk menyegarkan suasana, bisa jadi karena penatnya pekerjaan. Sekalipun berkomunitas atau berorganisasi juga menyita pikiran, namun sebisa mungkin dibuat agar santai namun tetap produktif.

Kafe-kafe pun juga banyak yang membuka dirinya, untuk dijadikan tempat bekegiatan dengan syarat yang mudah. Misalnya cukup dengan mewajibkan membeli konsumsi di tempat tersebut.

Kebijakan ini menjadikan tempat nongkrong sebagai alternatif kegiatan. Sebab jika dikalkulasi, ternyata lebih murah dan menawarkan suasana yang lebih segar. Tidak monoton di gedung tertutup. Syukur-syukur jika kafe tersebut menawarkan desain tata letak yang menarik dan instagramable.

Ketiga, kondisi ekonomi yang membaik. Setiap buka usaha perlu juga mempertimbangkan, siapa pembelinya?

Apakah realistis misalnya, kopi secangkir harganya 20ribu? Tentu harus mempertimbangkan kemampuan beli, atau setidaknya prioritas dari pembelinya.

Jika kafe seperti itu muncul, dan eksis, bisa jadi ekonomi memang mulai membaik.

Ada juga tren baru, yaitu banyak yang mulanya berkarir dan bekerja di Ibukota, kembali ke daerah, sambil membawa aset dan tabungannya.

Konon jumlahnya cukup signifikan, sehingga itu jadi pertimbangan untuk membangun tempat nongkrong dengan harga kelas menengah perkotaan.

-00-

Ketiga hal di atas bisa menjadi alasan kenapa tempat nongkrong di Blitar, khususnya wilayah kota, tumbuh bak jamur di musim hujan. Bahkan dalam kurun waktu sekitar 5 tahun saja.

Namun yang terpenting, di antara tumbuhnya bangunan fisik dari tempat nongkrong tersebut, perlu juga dibarengi pertumbuhan sumber daya manusia.

Harus lebih banyak melahirkan pekerja kreatif, agar momentum nongkrong tidak sekadar menghabiskan uang untuk ngopi, namun juga menghasilkan sesuatu.

Tumbuhnya budaya diskusi, agar kafe tidak terkesan sebagi tempat pacaran saja, namun juga jadi klaster pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan nonformal.

Apalagi jika dibarengi tumbuhnya kelompok literasi dan studi, kelompok penikmat buku, penulis, pecinta sejarah dan lain sebagainya.

Menarik juga jika tempat nongkrong menjadi klaster pengembangan kesenian. Selain tumbuhnya musisi atau band lokal, juga mendekatkan masyarakat pada pagelaran dongeng, monolog, pembacaan puisi hingga teater.

Kenapa demikian? Sebab ruang-ruang ini masih kurang diperhatikan. Terutama dalam kebijakan pendanaan.

Bandingkan saja dengan dana yang dikeluarkan untuk pagelaran wayang kulit, yang biasa diagendakan pemerintah kota dan kabupaten, atau tingkat kecamatan, yang menghabiskan dana ratusan juta.

Namun itu tak jadi soal. Pagelaran wayang juga harus terus dilestarikan karena itu kesenian bangsa Indonesia. Namun sudah relatif mendapatkan perhatian pemerintah.

Jangan sampai kedepannya tempat nongkrong itu hanya tumbuh dari sisi bangunan fisiknya, perlu juga diisi oleh hal-hal konstruktif dan produktif.

Sehingga tidak hanya berjuluk daerah seribu tongkrongan, namun ruang budaya, seni, dan literasi juga makin marak seiring pertumbuhan ekonominya.

Blitar, 28 Juni 2020

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik