Agama untuk Mengadili Para Perusak Lingkungan




Banyak orang masih membuang pampers di sungai. Sering itu saya temui, kebetulan rumah saya dekat sungai. Tak habis pikir, bagaimana pampers--dan kadang pembalut--dihanyutkan begitu saja di sungai?

Sampah-sampah demikian memang bermasalah. Mau dibakar, pamali. Mau dipendam, mana mungkin? Akhirnya hanyutkan saja ke sungai. Padahal, bisa jadi akhirnya dibakar juga oleh petugas sungai, atau orang sekitar yang geram karena sampah-sampah itu menyumbat aliran sungai.

Jika kesadaran manusia akan pentingnya menjaga sungai tak juga muncul, agama perlu hadir, lewat fatwanya : haram membuang sampah di sungai.

Fatwa itu lebih penting, dan lebih mendesak, ketimbang fatwa-fatwa politik di Ibukota. Memang orang tak akan begitu saja menjalankan fatwa tersebut, namun setidaknya agama punya keberpihakan pada lingkungan, pada kehidupan yang lebih luas.

Sejak nonton film Semes7a, atas undangan Wayan, keyakinan saya makin menguat. Apalagi pesan itu juga saya sampaikan, sebagai pemantik diskusi bersama Ki Amang Pramusudirjo (19/09/20) di Intuisi coffee Jalan Riau, Kota Blitar.

Dari film tersebut, setidaknya saya sadar bahwa masyarakat adat, kaum pedalaman, yang kadang kita anggap terbelakang dan kurang berpendidikan, justru lebih mampu hidup harmonis dengan alam.

Mereka tak hidup dalam gedung mewah dengan ruangan berpendingin. Keluar masuk hutan tanpa alas kaki, bertelanjang dada, minum dan mandi dari air sungai yang masih segar.

Kadang-kadang kita iri dengan kehidupan semacam itu, namun ekosistem sekitar tak lagi memungkinkan. Beragam buah yang dulu bisa kita petik cuma-cuma (karena tumbuh liar), kini jarang kita temui.

Buah ceplukan saja, yang dulu banyak tumbuh liar di sawah, kebun dan halaman rumah, kini sangat langka. Satu per satu, banyak hal yang hilang dari hidup ini. Atau mungkin tersedia, namun harus membelinya, dengan kualitas yang berbeda karena tumbuh dengan bantuan pupuk kimia.

Alam sudah sedemikian rusaknya, apalagi yang tanahnya dibajak oleh pabrik-pabrik, gedung megah, atau pemukiman baru.

Kerusakan alam sudah masuk level darurat. Sudah saatnya agama berperan, seperti yang dicontohkan dalam film Semes7a. Tokoh agama berperan aktif dalam menjaga lingkungan.

Selain itu, seorang yang terdorong ajaran agama untuk peduli dengan lingkungan, seperti Iskandar Woworuntu di Imogiri, Yogyakarta.

Para pemeluk agama, sebaiknya harus lebih bersuara tentang alam dan lingkungan. Superioritas agama diarahkan pada perbaikan ekosistem hutan dan laut yang mulai rusak.

Agama juga harus lebih keras pada perusak alam, pelaku industri yang mencemari lingkungan, menebang pohon ilegal, sampai pembuang sampah di sungai. []

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik