Pandemi dan Kembalinya Aktivitas Ngeblog




Masa Pandemi ini begitu terasa pada bulan Maret, April hingga Mei 2020. Tiga bulan yang benar-benar merubah keseharian saya, mulai dari banyaknya kegiatan yang ditunda, sebagian dibatalkan.

Tiga bulan itu terasa sungguh mencekam. Praktis hanya di rumah, sesekali keluar mencari angin, namun dengan suasana jalanan yang lengang, padahal masih sekitar pukul delapan malam.

Puasa Ramadan 2020 sungguh berbeda dari sebelumnya. Lebih banyak tarawih di rumah, sahur dan berbuka dalam keterbatasan.

Lebaran juga demikian, suguhan di meja habis dimakan sendiri. Biasanya pun juga begitu.

Namun, saya jadi kembali memerhatikan blog. Sebenarnya, sudah agak lama saya tidak intens ngeblog. Namun ngeblog adalah salah satu pemasukan yang sebenarnya bisa diandalkan, meski tidak banyak.

Dari Maret hingga Mei itu pula, tidak ada kontribusi berita yang saya kirimkan ke media-media, karena lebih banyak di rumah. Padahal, sepanjang pandemi ada banyak konten yang dibutuhkan sebab banyak orang punya waktu untuk mengakses internet dan sosmed.

Bisnis yang saya jalankan juga macet. Ohya, sebenarnya saya punya bisnis, menjalankan sebuah lapak di salah satu e-commerse. Produk keluarga, kadang produk teman. Khusus untuk pembeli luar kota, sebab saya tidak mau disibukkan oleh COD, dan tidak mau ketahuan kalau sebenarnya saya juga pedagang.

Biarlah orang tetap mengenal saya sebagai blogger, atau penulis, atau ya apalah yang berkaitan dengan literasi. Begitulah.

Lagipula, setelah tidak menjadi jurnalis formal, saya lebih banyak memperkenalkan diri sebagai blogger. Padahal pendapatan blogger itu kecil. Katakanlah, pendapatan sebulan itu hanya cukup untuk membayar cicilan motor yang angsurannya 36 kali.

Itu karena memang kurang intens. Jika serius ngeblog, setidaknya unggah lima artikel per hari, lalu bagikan ke semua sosial media utamanya facebook, twitter, telegram hingga whatsapp grup.

Padahal, ngeblog itu bisa dikerjakan di rumah. Bisa work from home. Uang bisa langsung masuk rekening, atau dompet virtual. Bisa langsung dibelanjakan di aplikasi jual beli atau untuk memesan grabfood.

Ngeblog adalah suatu pekerjaan yang homeable. Meski di rumah aja, tetapi kalau ngeblognya lancar, gak bakal kelaperan, kok.

Namun tidak semua orang betah ngeblog. Karena itu kerjaan orang rumahan, plus para introvert yang biasanya betah menyendiri, menatap layar ponsel, berdiam di sebuah kamar kedap suara.

Saya tipe ambivert, yang sumber tulisannya banyak didapat dari orang lain. Hanya saja punya sisi privat yang kuat. Tidak sepenuhnya introvert, kan?

Masuk bulan Juni, kondisi sepertinya sudah mulai kembali, meski tidak sepenuhnya. Juli ke Agustus kantor-kantor mulai buka, apalagi ada persiapan Pilkada.

Kafe kembali buka dengan pembatasan. Agenda yang ditunda kembali dijalankan, seperti program saya di dua kecamatan dan bersama guru-guru Bimbingan Konseling.

Bedanya, kita mulai terbiasa dengan webinar, kegiatan daring sudah menjadi kebiasaan baru.

Maka, beberapa kali saya diundang mengisi kegiatan daring. Benar-benar dilatih menjadi mahluk digital yang terikat dengan gawai, listrik dan jaringan internet.

Lebaran yang lalu saya dan teman angkatan kuliah melakukan halal bi halal via zoom. Di kamar masing-masing kami menyiapkan kopi dan camilan, ngobrol bebas ketawa ketiwi. Serasa sedang satu meja bersama.

Setelah sesi zoom itu selesai, suasana mendadak sepi. Oh iya, namanya juga daring. Tak ada tangan untuk dijabat, atau tubuh untuk dipeluk.

Dari segala jenis perenungan selama pandemi ini, muncul suatu resolusi di tahun 2021. Mungkin saya akan kembali rutin nulis di blog pribadi. Bercerita hal remeh temeh tentang pengalaman, keseharian atau kenangan-kenangan.

Apalagi, awal 2021 pasien covid bertambah drastis. Sebagian kecamatan di Kabupaten Blitar jadi zona merah pekat. Beberapa teman dan tetangga harus diboyong ke ruang karantina.

Sepertinya akan ada lagi pembatasan ketat, ya mungkin tidak lama karena konon ada vaksin. Namun aktivitas ngeblog tak bergantung pada vaksin. Menulis itulah "vaksin" pendukungnya. []

Ahad, 10 Januari 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik