Cari tulisan berdasar topik

Jumat, 19 Februari 2021

Menulis dan Merokok




Malang, 2013

Jelang pukul sepuluh malam, aku baru tiba di kontrakan. Penghuni kontrakan lain sedang khusyuk di depan laptop, sebagian tidur pulas.

Aku sangat lelah, sejak pagi hingga sore berkutat dalam kerja liputan, dan aku juga ingat kalau ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan malam ini.

Di dapur, kulihat masih ada bubuk kopi dan setoples gula. Tetapi, aku sudah dua kali ngopi hari ini, sekali lagi boleh kan?

Aku pergi ke warung dekat kontrakan, yang buka hingga larut malam. Membeli tiga batang Dunhil dan beberapa bungkus nyamikan.

Segelas kopi dan pelengkapnya sudah tersaji, aku nyalakan laptop. Kebetulan, aku di kamar sendiri, lainnya sekamar berdua. Plus, kamarku menyendiri di lantai atas, dekat jemuran.

Kontrakan kami berada di gang kecil, berdempetan dengan rumah warga lainnya. Suasana gang masih cukup ramai, bahkan hingga jelang tengah malam.

Dari kamarku, terlihat beberapa kamar tetangga. Sebelahku, kamar seorang yang baru lulus SMA, kerja di sebuah bengkel, penyuka modifikasi motor.

Kala pagi, kadang kami saling menyapa dari balik pintu. Hanya sapa menyapa, bahkan kami pun tidak saling tahu nama masing-masing.

Tak kenal maka tak sayang, tapi kami saling kenal tanpa tau nama. Haha.


Di kamar, sembari merampungkan makalah, aku menghisap sebatang rokok, sesekali menyesap kopi, camilannya justru terabaikan.

Tak banyak yang tahu jika aku seorang perokok, sebab aku perokok penyendiri. Mungkin sesekali, selesai liputan mampir warung, memesan kopi dan dua batang saja sebagai "doping" menulis berita.

Kadang juga kepergok teman, dan mereka kaget saat tau aku merokok.

Entah kenapa, aku malu melihat diriku sendiri merokok. Padahal seharusnya kita bisa santai saja merokok di tengah para perokok, itupun tidak aku lakukan.

Saat sedang nongkrong dengan beberapa teman dan mereka adalah perokok, aku justru tidak merokok. Padahal, katanya merokok itu untuk merawat keakraban. Namun aku justru ingin terlihat tidak merokok di antara para perokok dan itu tak memengaruhi tingkat keakraban kami.

-00-

Jogja, 2018

Di Jogja, aku numpang menginap di kontrakan seorang teman. Ada kamar yang sedang ditinggal pulang penghuninya, di lantai dua.

Aku jadi teringat kamar kontrakanku dulu. Bedanya, sebelah kamar itu adalah pelataran rumah seseorang yang banyak sekali mobil rongsokan.

Sore hari, aku jalan-jalan di sekitar perumahan. Ya, kontrakan itu berada di sebuah perumahan, meski letak rumah kontrakan itu menyempil di ujung.

Aku menuju warung untuk membeli sesuatu, ternyata warungnya tutup. Wajar, ini musim liburan mahasiswa, batinku.

Lalu aku bertanya ke seorang ibu yang sedang menyapu halaman, adakah warung lain atau minimarket?
Ibu itu kukira tuna rungu, karena menjawab pertanyaanku pakai bahasa isyarat. Tetapi, dia paham yang kutanyakan, meski ucapannya sangat sulit kumengerti. Lalu, dengan senyum ramah menunjukkan arah warung yang masih buka.

Aku berjalan ke lokasi yang ditujukan ibu itu, lokasinya lumayan jauh, sampai melewati lapangan sepakbola kecil yang disitu sedang bermain anak-anak sekitar perumahan.

Ada sebuah warung makan, namun juga ada etalase yang menjual kebutuhan sehari-hari. 

Aku hanya membeli sabun mandi dan camilan. Malam ini aku masih harus menyelesaikan naskah untuk semiloka esok hari. 

Eh, ada rokok. Apakah ini bisa membantu? Dalam dua tahun terakhir ini aku berusaha untuk berhenti merokok, berhenti sama sekali. Namun belum bisa.

Masih merokok, sekali seminggu atau dua kali sebulan, itupun dalam kesendirian pula.

Apa juga yang kuhasilkan dari merokok? Apakah tulisan yang ciamik? Dan apakah jika tidak merokok aku tidak bisa menyelesaikan tulisan?

Namun di Jogja, kumenemui seorang penulis kawakan, yang 100% hidupnya bergantung pada menulis di media cetak, entah opini atau karya sastra. Tiap bulan harus ada lebih dari 5 naskah yang dimuat media agar ia bisa tetap hidup.

Dia seperti knalpot motor 2-tak, atau cerek penyeduh air yang sudah mendidih. Mengepul tiada henti. Aku merokok maka aku ada, katanya.

Aku terpingkal-pingkal mendengarnya. Sekilas kurenungi, sekaligus bersyukur, aku tidak harus jadi knalpot statis seperti itu untuk jadi seorang yang bisa menyelesaikan tulisan.

Meski dibanding jumlah, aku kalah jauh, termasuk segi detail dan kualitas tulisan. Memang sih ada banyak yang tulisannya lebih banyak dari dia, hanya saja orang jarang membaca, bukan karena beda rokok, lho. []

Blitar, 18 Februari 2021
Ahmad Fahrizal Aziz