Kalian yang Harus Maju, bukan Sekolahnya


Beberapa anak mendatangiku dan menceritakan apa cita-citanya, ada yang ingin jadi auditor, pengusaha, anggota DPR, dosen, dan lain sebagainya.

Mereka juga menceritakan kemana saja selama liburan, di antara mereka ada yang ke Thailand, Selandia Baru, dan Umroh.

Aku tersenyum, sembari mengepalkan tangan dan berkata : semangat!

Selama 2 bulan aku akan menjadi guru mereka. Mereka masih kelas 3 MI. Sekolah ini tergolong sekolah maju, meskipun negeri. Gedung-gedungnya bagus, area sekolahnya rindang, fasilitas non akademiknya juga mendukung.

Mereka yang bersekolah di sini juga dari keluarga menengah ke atas, jika dilihat dari biaya SPPnya. Entah kenapa aku mendapatkan lokasi praktek mengajar di sekolah ini, konon itu dilihat dari nilai micro teaching atau simulasi sebelum praktek. Padahal sekolah ini sangat maju, dilihat dari segi apapun.

Tak sebanding dengan pengalamanku saat sekolah SD dulu. Meski negeri, SD kami dulu paling tertinggal di antara 3 SD lainnya yang jaraknya tak begitu jauh.

Jika ditanya cita-cita, jawabnya hanya 4 : kalau tidak guru, polisi, tentara, ya dokter. Karena hanya 4 profesi itu yang kami tahu namanya dan terlihat sukses.

Jika ditanya liburan kemana? Jawaban kami ya hanya bersama teman, atau maksimal ke rumah nenek yang jarakanya berbatas kecamatan atau kota.

Aku membandingkan begitu jauhnya dunia SDku dengan dunia mereka, tak membayangkan betapa lugunya misal diriku versi SD bergerumul dengan mereka saat ini. Ya wajar, sekolahnya saja berbeda.

Maju dan tak maju

Orang tua tentu ingin anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, salah satunya dengan memasukkan ke sekolah terbaik. Baik dari segi rata-rata prestasi akademik maupun non akademik, fasilitas sekolah, kualitas pengajar, hingga iklim belajar yang kondusif, dalam arti tidak ada tawuran dan bullying.

Itulah kenapa biayanya mahal, terutama yang swasta. Namun meski mahal peminatnya justru banyak, entah karena makin banyaknya orang tua yang naik level ekonominya atau demi pendidikan anak, biaya berapapun akan diusahakan. 

Namun kadang-kadang juga tidak berhenti di biaya pendidikan. Ketika mereka masuk sekolah itu, mereka akan bertemu teman-teman dan akan banyak obrolan terjadi soal keluarga, pekerjaan orang tua, mainan favorit, merk mobil, lokasi liburan, makanan favorit dan lain sebagainya.

Aku yang dari SD kurang maju, sekilas merasa bersyukur dulu sekolah di tempat yang biasa-biasa saja, tidak ada obrolan super wah yang bisa membuat kami insecure. Teman kami ya hidup nyaris sama. Jangankan ke Australia, ke Alun-alun kota pun belum tentu setahun sekali.

Pendidikan formal, informal dan nonformal

Ibarat benih, sekolah adalah lahan tumbuh bagi anak. Namun sekolah bukan satu-satunya. Sekolah adalah bagian dari pendidikan formal, masih ada yang informal dan nonformal.

Anak juga bisa tumbuh dalam keluarga dan lingkungan, yang kita sebutnya pendidikan informal. Mulanya anak melakukan imitasi/peniruan pada kebiasaan orang tua. Jadi perilaku anak adalah refleksi dari apa yang mereka lihat dari orang tua dan atau lingkungannya.

Misal di keluarga anak tidak bisa tumbuh maksimal, dia bisa tumbuh di tempat lain, lewat kegiatan hobinya misal. Siapa tau, dia justru menemukan makna hidupnya disitu.

Pada usia-usia remaja tempat tumbuhnya bisa jadi justru di komunitas di luar sekolah atau organisasi ekstrakurikuler. Itu bagian dari pendidikan nonformal.

Dia bisa tumbuh, berkembang, menjalin relasi, mendapat ruang dan apresiasi.

Lagipula, kita harus sadar tidak semua anak lahir beruntung, tidak semua anak bisa tumbuh dalam keluarga, karena berbagai alasan.

Para orang tua sibuk mencarikan sekolah terbaik bagi anaknya, namun jangan sampai lupa bahwa keluarga juga tempat mereka tumbuh.

Para orang tua berusaha menggenjot akademik anaknya dengan les tambahan dan semacamnya, namun jangan lupakan bahwa ruang-ruang non akademik juga bagian dari lahan tumbuhnya anak.

Pendidikan bukan hanya di kelas, bukan?

Jumat, 28 Mei 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik