Cari tulisan berdasar topik

Sabtu, 05 Juni 2021

Tiket Kartu Domino dan Sesaknya Penumpang


Pertama naik Kereta Api saat Aliyah, mungkin sekitaran tahun 2008. Rute pertama tentu saja ke Malang, untuk jalan-jalan di hari Minggu.

Tiketnya murah, seingatku Rp4.000. Tiket bisa dibeli langsung di loket, tanpa batasan kuota. Ya, jika beruntung bisa dapat tempat duduk, jika tidak ya harus berdiri, atau duduk lesehan santuy di antara pintu-pintu gerbong.

Karena dulu berangkat subuh, masih tersedia banyak tempat duduk. Baru masuk stasiun Kepanjen, penumpang sudah penuh, banyak yang berdiri, berjejalan, dan harus berbagi jalan dengan penjual asongan atau pengamen.

Sesampainya di Malang kami hanya jalan kaki sekitaran Bundaran balai kota sampai area Car Free Day (CFD) sepanjang Jalan Ijen. Teringat betapa sulitnya nyebrang jalan di sekitaran bundaran.

Setelah dari CFD, paling naik angkot menuju Matos, mengelilingi pusat perbelanjaan, nyanyi di karaoke box, atau menikmati teh racik di area Food Court. Pernah ingin nonton film di bioskop namun kursi selalu penuh untuk siang hari, padahal sore kami harus kembali ke stasiun.

Dulu, di sekitaran Matos banyak warung-warung tenda, sebelum dibangun MX atau sekarang Transmart. Kami makan siang disitu dengan menu ala warung tegal. Namun hampir selalu tersedia menu tahu telur yang konon khas Malang.

Selama kuliah, pernah kehabisan tiket

Tahun pertama kuliah aku harus tinggal di Ma'had. Pulang ke Blitar selalu mengambil Jumat malam, pulang Minggu sore, tidak bisa Senin subuh karena agenda Ma'had sangat padat.

Baru tahun kedua bisa pulang senin subuh karena sudah tidak terikat agenda-agenda Ma'had, salah satunya Shalat subuh yang harus mengisi absensi, jika tidak ikut shalat subuh beberapa kali bisa kena iqab/hukuman dan terancam tidak lulus Ma'had.

###

Pernah kehabisan tiket kereta api. Aku masih ingat. Padahal kupikir tak ada kuota, toh tiket tak pernah disesuaikan dengan tempat duduk.

Namun meski kehabisan tiket, ada saja yang tetap bisa naik dan ketika pemeriksaan tiket, kadang cukup mengganti sejumlah uang untuk beli tiket.

Btw, dulu masuk peron tak seketat sekarang, tak perlu menunjukkan KTP.

Jika kehabisan tiket, langsung mencari angkot AG atau GA. Pokok ada G, yang berarti terminal Gadang untuk naik Bus Malam, rata-rata Busnya besar.

Angkot melewati jembatan sekitaran Jodipan yang dulu belum dicat warna warni. Sekilas kayak Kampung di sekitaran kali Ciliwung di Jakarta, namun ini kali Brantas.

Gerbong kereta yang penuh sesak

Minggu sore adalah jadwal yang padat untuk kereta ekonomi. Sebagian besar mahasiswa atau pekerja kembali ke perantauannya.

Tiap kali pulang Minggu sore, aku hampir tak pernah dapat tempat duduk. Bahkan tak jarang berjejalan di antara pintu masuk, agar dapat udara segar. Kami berdiri tanpa jarak, bahkan ada yang begelantungan di pintu gerbong.

Tangan kami saling memegang pundak penumpang lain, sebab tak ada pegangan lagi. Apalagi kami membawa tas yang lumayan berat. Tragisnya, kondisi itu bisa berlangsung dari Blitar hingga Malang, stasiun kota baru. Lebih melelahkan daripada upacara bendera yang hanya berapa menit.

Dengan kondisi seperti itu, tubuh kadang berkeringat, menyatu dengan bau belerang dari kereta api. Tak jarang pula perut terasa mual, satu-satunya cara mengalihkan pikiran adalah dengan membuka obrolan dengan penumpang lain. Ngobrol terus saja sampai tak terasa banyak stasiun terlewati.

Mengumpulkan tiket

Sebenarnya aku mengumpulkan tiket kereta api model kartu domino. Kubungkus dalam plastik, sebagai kenang-kenangan. Namun sepertinya menumpuk dalam berkas-berkas makalah perkuliahan dan berkasnya entah kemana, sebab berulang kali pindahan.

Sebagai mahasiswa, berkas kami sangat banyak. Aku pribadi punya dua dus khusus berisi berkas makalah dari setiap mata kuliah selama setahun, belum lagi berkas-berkas kuisioner.

Salah satu yang kusesali adalah berkas kliping tulisanku yang pernah dimuat koran. Aku mengumpulkan dengan rapi, tulisan yang muat di Kompas, Jawa Pos, Harian Surya, Koran Pendidikan, Majalah-majalah, hingga berkas liputan yang pernah kutulis.

Tidak semua berkas mampu kuangkut ke Blitar, sebagian mungkin tertinggal di kontrakan organisasi. Sebab di kontrakan organisasi itu juga ada berkas-berkas dari penghuni terdahulu yang mungkin juga tidak sempat diurus.

Saat pindahan yang kuingat hanya buku-buku, meski tidak semuanya terbawa dan kuhibahkan untuk organisasi.

Berkas lain entah kemana bersama tiket kartu domino yang legendaris itu, mungkin sudah dikiloin oleh penghuni baru sebab jika terus ditumpuk kontrakan bisa jadi gudang berkas. []

Blitar, 5 Juni 2021
Ahmad Fahrizal Aziz