Menembus Cerpen Kompas, Pesan dari Redaktur Sastra

Banyak penulis berharap cerpennya dimuat koran kompas. Selain honornya paling tinggi di antara media lain, muat di Koran Kompas memberikan suatu prestise dan nilai tersendiri bagi penulisnya.

Sang penulis lebih dikenal dan lebih diakui karena berhasil menembus koran Kompas. Di samping itu, ada penghargaan lain berupa kumpulan cerpen terbaik kompas setiap tahunnya.

Penulis yang karyanya dimuat kompas, hampir selalu punya posisi strategis di kancah dunia sastra Indonesia, terlebih jika ia penulis baru. Kenapa bisa demikian?

"Dalam setahun kita hanya memuat 50 sampai maksimal 52 cerpen," ungkap Putu Fajar Arcana, Redaktur Sastra Kompas, kala berbincang dengan Ana Mustamin di kanal Maroja TV.

Sementara itu, ada sekitar 5.000 naskah yang masuk. Itu artinya hanya 10% saja yang dimuat, sisanya dikembalikan ke penulis. Lalu apakah nama besar diprioritaskan untuk dimuat?

Tidak! Bahkan cerpen karya Putu Wijaya, Seno Gumira, Budi Dharma juga pernah ditolak.

"Hebatnya, ketika naskah mereka ditolak, tidak tanya kenapa ditolak tapi dibalas dengan mengirim karya lain," lanjutnya.


Kriteria naskah yang diterima

Meski demikian, Putu Fajar Arcana juga menegaskan bahwa Kompas adalah koran umum, bukan koran sastra. Artinya pertimbangan pasar tetap ada.

Nama-nama besar di dunia sastra Indonesia yang mengirimkan naskah, akan menjadi perhatian tersendiri.

"Namun jangan salah sangka, bukan berarti pasti dimuat," tegasnya.

Ternyata, selain "gagasan" dari karyanya tersebut, yang pertama paling diperhatikan adalah sisi kepenulisan. Tim editor mendapatkan bagiannya masing-masing. Pada bagian akhir, naskah diseleksi Putu Fajar Arcana selaku koordinator.

Inilah fase penilaian isi, ide cerita dan perspektif. Ia mengingatkan bahwa Kompas punya "ideologi" untuk menentukan apakah karya ini layak dimuat atau tidak. Kompas mengusung nilai Humanisme Transedental.

Humanisme Transedental adalah gambaran Indonesia. Menurut Jacob Oetama, orang bisa berbeda agama dan suku, namun punya nilai kemanusiaan yang sama.

Humanisme Transedental memotret keragaman Indonesia. Memadukan kekayaan lokal dengan nilai humanisme sebagai suatu bangsa Indonesia.

Lahirnya kompas.id

Sebagai media, Kompas juga punya tanggung jawab melahirkan penulis-penulis baru, termasuk dari daerah. Karena itu, koran tak lagi cukup menampung potensi besar itu. Kompas pun membuat kanal kompas.id

Dalam seminggu, kompas.id bisa menerima 2 karya. Meski redaktur yang menyeleksinya sama, namun email pengirimannya berbeda. Kompas.id, menurut penuturan Putu Fajar Arcana, memberi ruang bagi penulis muda usia di bawah 40 tahun.

Kompas juga aktif melakukan workshop penulisan cerpen, dalam rangka mencetak lebih banyak cerpenis. Pada sesi workshop ini dijelaskan lebih detail cerpen yang sesuai dengan kriteria kompas.



Setelah dimuat

Biasanya, cerpenis yang karyanya dimuat koran Kompas, selain namanya lebih berkibar, juga sering diundang untuk mengisi beragam pelatihan menulis cerpen di berbagai lembaga atau komunitas. Itu salah satu dampak tak langsung.

Mereka juga diundang ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan jika naskahnya masuk cerpen pilihan. Namanya masuk dalam pusaran penulis nasional. Ruang aktualisasinya semakin luas.

Koran Kompas adalah salah satu dari media nasional yang paling banyak disasar penulis. Bahkan menjadi barometer tersendiri. Meskipun Kompas sendiri sepertinya juga sudah mempersiapkan kanal digital yang seleksinya tidak seketat koran kompas.

Meski dimuat koran Kompas memberikan nilai yang tinggi bagi cerpenis, namun itu juga sangat bergantung eksistensi koran itu sendiri.

Banyaknya media cetak yang gulung tikar atau beralih ke digital, membuat kita juga bertanya: masih berapa lama lagi koran Kompas bertahan? Jika koran Kompas berhenti terbit akankah cerpen yang dimuat Kompas.id bisa menyamai prestise ketika muat di koran?

Karena itu, silahkan bagi para cerpenis untuk berjuang agar karyanya dimuat koran Kompas. Jika sudah dimuat, maka klipinglah dengan rapi sebagai hiasan dinding yang penuh kenangan dan sejarah. []

Blitar, 9 Oktober 2021
Ahmad Fahrizal Aziz


0 Komentar

Cari tulisan berdasar topik