Kebiasaan Kecil yang Menyelamatkan Hidup

Agar tak menumpuk, biasakan cuci piring setelah makan. Begitu pesan Ibu.

Tak hanya piring, juga pakaian kotor. Setiap hari, sempatkan cuci satu atau dua, langsung dijemur.

Dua kebiasaan yang mungkin menurut kita sepele, tetapi siapa sangka jika itu menyumbang perubahan besar pada diri kita, termasuk memengaruhi cara pandang dalam banyak hal.

Kebiasaan cuci piring di atas melatih kita untuk disiplin dan membereskan sesuatu yang sudah kita perbuat.

Mungkin terkesan sederhana, namun jika setiap kali makan kita selalu berpikir: ah, nanti saja sekalian. Tak terasa piring kotor menumpuk sampai kita memerlukannya kembali.

Ini juga berlaku ketika ada tugas sekolah atau kuliah, selagi ada kesempatan kita selalu menunda dan akhirnya menumpuk dalam satu waktu. Sekalipun bisa dikerjakan, hasilnya pun kurang maksimal.

Itu baru piring dan baju kotor, lantas bagaimana jika yang menumpuk adalah masalah? Tak semudah itu dibereskan.

Satu masalah belum diselesaikan, muncul masalah baru, dan masalah berikutnya, menjadi suatu "ledakan pikiran" yang membuat hidup kita jadi tak berjalan maksimal.

Bahkan tak jarang yang lari dari masalah, membuatnya kehilangan kepercayaan diri dan kepercayaan dari orang lain.

Orang-orang yang sekarang berhasil, menjadi problem solver, siapa tahu berawal dari kebiasaan sederhana seperti mencuci piring setelah makan.

Siapa sangka, itu menyelamatkan hidupnya, membuatnya menjadi sosok tangguh, disiplin, dipercaya karena kualitasnya menyelesaikan persoalan.

Kesadaran akan pentingnya membiasakan hal-hal kecil tertuang dalam buku Atomic Habits karya James Clear.


Ia berkisah bagaimana kedisiplinan membuatnya kembali hidup setelah nyaris tewas saat "kecelakaan" di arena Bisbol, yang mematahkan hidung dan meretakkan sebagian kepalanya.

James Clear mulanya menuangkan pikirannya lewat blog pribadi, namun dari hari ke hari semakin banyak peminatnya, dan yang berlangganan blognya via email.

Karena itulah ia mendapatkan tawaran untuk menerbitkannya menjadi buku, dan saat buku itu terbit, blognya sudah dikunjungi jutaan orang per bulan.

Ia kemudian mendirikan Habits Academy dan banyak diundang untuk memberikan pelatihan tentang "kebiasaan kecil" ke banyak karyawan di perusahaan besar dunia.

Buku yang ia tulis pun akhirnya sampai juga ke Indonesia, dan diterbitkan Gramedia. Meskipun terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia kurang luwes, namun tetap asyik untuk dibaca.

Pemilihan judulnya sangat menarik: Atomic Habits. Atom adalah partikel kecil yang bisa menciptakan ledakan dahsyat. Artinya, kebiasaan kecil dalam hidup kita sesungguhnya juga menyumbang pembentukan karakter dan cara kita menyikapi sesuatu.

Buku ini menyadarkan kita bahwa perubahan dimulai dari hal sederhana, kebiasaan kecil, sayangnya kita sering kalah oleh rasa malas. []

Blitar, 7 November 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Cari tulisan berdasar topik