Prospektus





Hujan turun tiba-tiba, aku behenti di depan monumen PETA untuk mengenakan jas hujan.

Hari ini, dari pagi hingga sore langit begitu cerah, bumi seperti dipanggang seharian, tapi lepas pukul 7 malam, hujan turun begitu derasnya.

Sebenarnya aku hendak pulang, hanya saja Alfa Anisa menginformasikan jika dia sedang berada di kedai kopi. Aku mampir sebentar, kebetulan satu arah.

Selain Irsyad, sudah ada Luluk dan Ikla. Ternyata sedang ada rapat pengurus FLP Blitar. Lah.

Aku memesan Cappucino latte dalam mug hitam berhias tulip art. Rasa susunya begitu kuat.

Aku tahu jika FLP Blitar periode ini sering dapat komplain, sampai Lulu nyaris frustasi, berlembar-lembar tisu ia habiskan untuk menyeka air mata.

Kasihan. Apalagi, malam itu tak ada pengurus lain yang bisa hadir, selain Ikla.

"Mundur saja," pintaku.

"Nggak mas, ini amanah," jawabnya.

"Ya sudah, nikmati kondisi ini," kelakarku.

Setelah hujan reda, operator kedai membunyikan lagu pop. Kami duduk tepat di bawah sound system.

Rapat terbatas pengurus dimulai dengan, sebagian, melalui google meet.

Aku, seperti yang kutulis sebelumnya, memang sudah tidak ingin urun rembuk atau sekadar komentar soal keorganisasian di FLP Blitar. Biarlah berjalan apapun yang terjadi.

Termasuk jika vakum (lagi)? Ya, tentu saja, kenapa tidak?

-00-

Alfa Anisa dan Irsyad selalu menunjukkan gesture tidak ingin diidentikkan dengan FLP Blitar, namun selalu setia jadi teman curhat jika FLP Blitar sedang ada masalah.

Seperti malam itu, kukira aku akan datang untuk menyambung obrolan seputar kepenulisan seperti biasanya, namun ternyata mereka sedang jadi konselor informal dan aku juga "dijebak" untuk hadir.

FLP Blitar itu orangnya banyak, yang senior juga, mentor-mentornya juga banyak. Pengurusnya sekarang juga banyak, dan panggungnya juga banyak pula.

Lulu dkk tidak lebih sulit jika dibanding periode sebelumnya. Sudah terbentuk semacam big family dalam FLP Blitar. Secara informal, FLP Blitar akan tetap ada.

Mereka yang berminat dengan puisi, cerpen, esai dan lainnya, mungkin masih akan berkumpul sekadar ngopi untuk membahas itu. Secara personal, jebolan FLP Blitar masih akan berkarir atau sekadar berhobi dalam bidang kepenulisan.

Banyak aktivis FLP Blitar, termasuk Lulu sendiri, merasa jika FLP Blitar gak seasyik dulu.

Ya iyalah, dulu kalau ada masalah kan bukan kalian yang urus. Sekarang ketika jadi pengurus ketimpa peran dan tanggung jawab pengelolaan.

Kami pun (dulu) juga begitu, ketimpa peran dan tanggung jawab, apalagi sepanjang 2018 ketika project penerbitan buku puisi yang eror of the game sejak lauching. Cobalah berada di posisiku saat itu, hihi.

Anggota-anggota yang dulu enjoy on FLP Blitar, menikmati suasana produktif di dalamnya, memang hanya sebatas jadi anggota, belum merasakan, misal ketika harus memenuhi tuntutan keorganisasian dari FLP Pusat dan Wilayah. Belum merasakan beratnya nyari dana untuk kegiatan, belum merasakan loby sana sini demi suatu program.

Ya kalau hanya sekadar datang ke rutinan, dapat materi nulis, datengin siaran radio biar eksis dan terkenal, atau hadiri undangan-undangan dinas dan sebagainya, kan ya enak aja.

Tapi kalau ditanya siapa yang urus kaderisasi, media, pertemuan rutinan, kegiatan kepenulisan dlsb, belum semua mau, malah mending mundur saja, dibayar juga enggak.

-00-

Aku sebenarnya sudah tak berekspektasi lebih, entah bagaimana dengan Alfa dan Irsyad.

Aku selalu membuka diri pada diskusi-diskusi soal nonfiksi, malah rencana kami akan membuat pertemuan rutinan yang bersifat non formal.

Aku tak ingin membebani pengurus sekarang dengan tuntutan harus begini begitu, atau mengakomodir pertemuan ini itu. Tidak, buat apa sih?

Kami sudah menuntaskan tugas kesejarahan di FLP Blitar. Jika senior FLP Blitar lainnya sekarang masih ingin berkarir ke jenjang di atasnya, misal naik ke pimpinan wilayah sampai pusat, ya monggo saja.

Aku sendiri sudah pamit untuk lepas dari hiruk pikuk keorganisasian di FLP, dan ingin lebih fokus pada kepenulisannya, khususnya esai dan karya nonfiksi.

Pertemuan malam itu hanya sebatas "pengurai rasa", teman bicara, sebatas mendengarkan, itu saja.

Aku tahu komposisi pengurus saat ini tidak bisa diberikan beban lebih, maka dari itu aku tak berani sekadar memberi masukan lagi karena itu akan semakin membebani.

Jalani saja apa yang sudah "dibangun" periode sebelumnya, seperti pertemuan rutin mingguan, siaran radio, hingga merawat hubungan baik dengan lembaga-lembaga yang selama ini sudah bekerjasama dengan FLP Blitar.

Tidak perlu bikin hal baru jika itu hanya menambah capek tapi tak menghasilkan suatu progress yang baik.

Karena untuk merawat yang ada saja sudah kesulitan, bukan?

Karenanya, seperti yang dulu aku usulkan, manfaatkan big family FLP Blitar untuk memperkuat kepenulisannya. Jangan seret ke persoalan organisasinya, termasuk aku.

Untuk mempermulus agenda kepenulisan itu, ada tim mentor. Mentor baiknya juga fokus pada urusan kepenulisannya, dan tidak intervensi persoalan organisasi.

Sebab mengurus kepenulisan dan organisasi dalam satu waktu itu tidak mudah.

Aku pamit dari hiruk pikuk keorganisasian FLP itu agar bisa lebih fokus mendukung aspek kepenulisannya. Tapi, beberapa pengurus kerap bertanya atau semacam konsultasi perihal keorganisasiannya.

Itupun aku tak keberatan, hanya saja ternyata, itu justru membuat sebagian takut karena grade standart yang berbeda.

Memang betul kata seseorang, kita bisa saja memberikan saran, namun kita juga harus melihat batas kemampuan dari orang yang kita beri saran.

Sekilas itu terkesan meremehkan, padahal aku tak bermaksud demikian. Aku selalu menaruh optimisme pada beberapa figur, dan caraku memompa kemampuannya tidak dengan memuji dengan kata-kata manis.

Maaf, sekali lagi. []

HavanaKopi,
Ahmad Fahrizal Aziz

Cari tulisan berdasar topik