Pak Habibie Menulis Novel


Kamis, 12 September 2019

Kehilangan Istrinya, Ainun, menciptakan kekosongan luar biasa pada hidup B.J Habibie, sampai harus mendapatkan pertolongan dari dokter ahli jiwa. Bahkan ada saran B.J Habibie harus dirawat secara intensif.

Saat itu pilihannya ada 4 : Pak Habibie dirawat di rumah sakit, dirawat di rumah dengan mendatangkan dokter khusus, mencurahkan semua isi perasaannya, atau diselesaikan sendiri.

Tentu, Pak Habibie memilih opsi keempat. Sebab ia khawatir jika dirawat, nantinya tak bisa keluar, karena sakitnya bukan secara medis, namun "sakit jodoh", atau kehilangan jodoh.

Maka, mulailah seorang B.J Habibie yang terkenal sebagai Ilmuan dan teknokrat pesawat terbang itu menulis novel. Ya, novel yang berjudul Habibie dan Ainun, yang ia tulis sendiri, menceritakan ulang kisah cinta mereka selama 48 tahun 10 hari.

Novel itu kemudian diangkat ke layar lebar, dan menjadi deretan film romansa epik terlaris sepanjang sejarah perfilman nasional hingga sekarang.

Novel itu sedikit mengisi kekosongan seorang B.J Habibie yang kehilangan Ainun. Lewat novel tersebut, Pak Habibie merasa jika sosok Bu Ainun selalu ada menemaninya, dari dimensi yang berbeda.

Anda bayangkan bagaimana seorang teknokrat yang biasa mengaitkan rumus dan menghitung angka, tiba-tiba menulis novel yang berisi 37 bab dan 321 halaman. Sungguh luar biasa, bukan?

Itulah sebabnya banyak yang bertanya, kenapa Pak Habibie menulis novel? Apa tak ada pekerjaan lain? Atau ganti profesi?

Lantas Pak Habibie menjelaskan jika ia menulis novel untuk "menyembuhkan" rasa kehilangan atas kepergian Bu Ainun, dan karena itulah ia tak perlu dirawat intensif oleh dokter ahli kejiwaan.

Hal itu Pak Habibie ceritakan sendiri saat berceramah dalam acara Penganugerahan Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur, di Jakarta Convention Center, 17 Januari 2013.

Kedai Muara
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Cari tulisan berdasar topik