Dana Cadangan Saat Menjadi Mahasiswa



Selamat karena telah menjadi mahasiswa.

Tahun ini, meski dengan segala keterbatasannya, beberapa pelajar telah berubah status menjadi mahasiswa.

Di beberapa kampus, Orientasi Pengenalan Akademik atau yang populer disebut Ospek (masing-masing kampus memiliki nama tersendiri), tetap digelar dengan caranya masing-masing.

Kuliah itu mahal, karenanya tidak semua punya kesempatan. Bahkan ada yang harus kerja dulu baru bisa kuliah.

Namun, menjadi mahasiswa itu juga sebuah keberuntungan. Aksesnya sangat luas, apalagi yang aktif dalam organisasi atau kegiatan intra kampus.

Ada banyak hal bisa diakses : beasiswa, pelatihan, workshop dan sebagainya.

Beberapa kegiatan bahkan gratis, malah dapat uang saku. Karena itu, tiap kali ada kegiatan dan ada uang sakunya, biasanya saya simpan sebagai "dana cadangan". Begitulah asyiknya.

Misal, beberapa seminar atau workshop yang peserta mendapat uang transport atau uang saku/dim.

Kadang-kadang amplop itu tidak langsung saya buka. Saya simpan, sebagai dana cadangan. Kadang-kadang sampai kelupaan.

Saat dompet tipis, saya masih ingat kalau ada dana cadangan. Senangnya bukan main, padahal dana cadangan itu biasa saya kumpulkan bila ada keperluan mendadak.

Ada banyak sekali agenda seminar atau workshop yang memberikan uang transport. Memang jumlahnya tidak besar, terutama jika seminar itu dilaksanakan sehari. Namun ilmunya lebih mahal, bukan?

Dua pekan lalu saya merapikan berkas di lemari. Ada tas kecil yang khusus saya gunakan untuk menyimpan sertifikat. Tak menyangka ada banyak agenda saya ikuti selama menjadi mahasiswa.

Dari sekian agenda itu ada beberapa yang menginap di hotel dengan segala fasilitasnya, plus dapat uang saku. Beberapa agenda misalnya yang didanai oleh The Asian Foundation.

Agenda lain, juga tak kalah seru misalnya workshop 3 hari BNPT, Workshop BNN, dan agenda Magang Kewirausahaan yang diadakan Kementrian Agama selama 1 bulan di suatu kawasan desa ekowisata. 

Agenda tiga hari yang juga sangat mengesankan bersama Sejuk.org, dan sebagian agenda yang mengharuskan kunjungan ke luar kota.

Andai tidak menjadi mahasiswa, mana mungkin saya bisa merasakan megahnya hotel-hotel bintang 4 atau naik pesawat terbang?

Semua itu bisa saya ikuti karena berstatus mahasiswa. Belum lagi beberapa beasiswa yang rutin saya dapatkan seperti DIPA.

Selain itu, honor-honor nulis yang tak terlalu besar, atau honor mengisi acara diskusi, menjadi moderator atau menjadi delegasi yang dibiayai lembaga selama berstatus mahasiswa.

Kadang-kadang, yang paling saya ingat saat menjadi mahasiswa justru bukan materi di kelas, namun aktivitas di luar kelas.

Beragam pengalaman dan kesempatan yang dicecap saat menjadi mahasiswa. Pelajaran berhemat, hidup mandiri di sebuah rumah kontrakan, mengelola kebutuhan termasuk berpikir untuk harus memiliki dana cadangan.

Pengalaman saya ini tak ada apa-apanya, sebab masih banyak mahasiswa yang lebih dari itu. Bahkan sampai keliling beberapa negara.

Menjadi mahasiswa itu asyik. Jangan takut tak ada biaya, sebab Tuhan akan selalu menolong umatnya yang tekun di jalan keilmuan. []

Blitar, 29 Oktober 2020
Ahmad Fahrizal Aziz

Cari tulisan berdasar topik