Warung Mak Duro, Kenangan Saat Kuliah




Ada cukup banyak sebutan warung Mak Duro di Malang. Istilah itu ditujukan untuk sebuah warung yang pemiliknya emak-emak, dan tertulis : makanan khas Madura.

Di dekat kampus UIN Malang ada beberapa warung Mak Duro. Langgananku di Sumbersari Gang. 1. Letak warungnya memanfaatkan lantai 1 rumah pemiliknya.

Khas warung rumahan yang diapit bangunan kos-kosan dan tak menyediakan lahan parkir.

Sejak bermukim di Sumbersari selama 2 tahun, aku rutin ke Mak Duro, terutama untuk makan siang.

Masakan Mak Duro yang sering kupesan adalah Rawon dan Lalapan Ikan Nila. Mak Duro lah yang menyakinkanku kalau sambel Petai itu enak. Ya, saudara bisa membayangkan makan Rawon plus sambel petai.

Ternyata benar. Saat itu, hingga sekarang, aku jadi suka Petai. Petai yang dulu tak begitu menimbulkan selera, kini sungguh menggairahkan.

Bisa dibilang, keunggulan masakan Mak Duro terletak pada sambelnya, beresonansi dengan racikan bumbu yang tepat pada menu masakan lain.

Meski itu warung, dan aku harus bayar, kadang-kadang seperti makan di rumah sendiri.

Pernah saat bulan puasa, aku bangun terlambat. Hampir Imsak. Biasanya, warung-warung sudah kehabisan menu, ludes diserbu mahasiswa.

Aku setengah berlari ke Mak Duro, etalase warung sudah ditutup tirai. Melihat aku datang Mak Duro kaget : Loh koen, kate imsak durung sahur.

Akhirnya aku dipersilahkan masuk, makan di dalam dan warung pun ditutup.

Sampai saat ini, aku tak tahu siapa nama Mak Duro gang. 1 itu. Padahal Mak Duro tau namaku. Rizal. Begitu ia memanggilku.

-00-

Beda lagi dengan Mak Duro belakang kampus. Tepatnya di sebelah Pujasera. Sekarang mungkin desain lokasinya sudah berbeda, karena tersentuh pembangunan. Atau mungkin, warungnya sudah berpindah.

Namun foto dari Google street view ini semoga bisa sedikit memberi gambaran.

Warung Mak Duro belakang kampus itu ramai, karena harganya relatif murah. Padahal, sepanjang jalan banyak warung lainnya.

Menu andalannya Tahu Telor, yang dideklarasikan sebagai makanan khas Malang. Lainnya menu nasi campur, atau mie instan.

Mak Duronya juga humble, blater kata orang Jawa. Suka ngajak ngobrol mahasiswa yang sedang makan di situ.

Dibanding Mak Duro gang. 1, aku memang jarang ke Mak Duro belakang kampus. Paling saat masih tinggal di Mahad dan jika sedang Ishoma menanti jam kuliah siang.

Tetapi di kalangan mahasiswa UIN, Mak Duro belakang kampus sangat melegenda.

Saat menjadi mahasiswa itulah, wawasanku soal makanan bertambah. Tahu dan telor bacem misalnya, aku baru tau saat kuliah itu. Bahkan ada tempe dan tahu bakar. Menu itu laris manis karena harganya sangat terjangkau.

Selain itu juga banyaknya warung atau kedai nasi yang bertulisakan makanan khas madura, yang penjualnya dipanggil Mak Duro.

Kadang saat melihat menu-menu di grabfood, aku terhenti di warung yang bertulisankan "madura". Meskipun kalau di Blitar, yang khas dari Madura adalah satenya, itupun yang mengipit sate bukan emak-emak, melainkan bapak-bapak berpeci agak miring.

Madura selain dikenal sebagai Pulau penyair, sepertinya juga dikenal sebagai "perantau kuliner", misalnya Mak Duro yang legendaris. []


Blitar, 20 Februari 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Cari tulisan berdasar topik