Sosial Media dan Orang-orang Kesepian


Tiap kali ke warnet hampir selalu aku ketemu kakak kelas paling stylist di sekolah. Dia memasang headset dan fokus pada komputer, sesekali say hello jika melihatku. Begitupun sebaliknya, misal ketika aku sudah berada di warnet duluan dan dia baru datang.

Kebetulan, meski tidak stylist, aku juga lumayan dikenal di sekolah saat itu sebagai ketua ekskul.

Saat itu masih berseragam sekolah, jadi kami tahu jika masih satu almamater. Uniknya, kami tidak pernah saling kenalan, hanya seringkali berpaspasan di warnet, lalu pas acara perpisahan aku menjadi MC dan dia tampil untuk sesi drama.

Namun kenapa waktu itu aku sering sekali ke warnet? Di era itu (antara 2007-2009) aku sudah cukup familiar dengan dunia maya, sudah punya facebook, friendster apalagi. Teman sekelas belum satu pun yang tau apa itu facebook.

Aku ke warnet setelah pulang sekolah, kebetulan sekolah kami hanya sampai pukul 13.45. Selain lebih murah karena paket pelajar (syaratnya harus berseragam), kala itu juga berpikir : kalau pulang mau ngapain ya? Akhirnya warnet lah yang menjadi tempat tujuan.

Padahal apa saja yang dilakukan di warnet? Dengerin musik, chatting di MIRc, buka friendster, dll

(FYI. Dengerin musik tidak semudah sekarang, dulu Mp3 aja jarang yang punya, beberapa dengerin musik lewat Ipod. Hp sebagian besar masih polyponic).

Chat di MIRc
Ketika komputer menyala, dulu ada icon/aplikasi MIRc. Itulah media chat paling hits di eranya. Kita bisa masuk room chat, entah random atau yang berdasar kota. Misal room chat blitar. Namun semuanya full teks, belum ada fitur lainnya.

Biasanya aku masuk room jakarta, room bandung atau room surabaya. Kita bisa chat ramai-ramai di grup atau memilih satu orang, istilah sekarang japri.

Setelah kenalan, baru tukar foto lewat MMS, atau kalau sudah punya friendster or facebook tinggal tukeran nickname saja. Sehingga, sebagian besar teman friendster saat itu ya dari MIRc.

Asyik sekali bisa berhubungan dengan banyak orang dari berbagai daerah lewat internet. Apalagi bisa sampai bertemu di friendster dan facebook.

Aktif bersosial media

Ternyata dari tahun ke tahun manusia makin menambah porsi waktunya di depan komputer, apalagi ketika sosial media mulai dikenal luas dan terlebih ponsel pintar diciptakan.

Saat aktif di friendster dulu, yang kuingat orang-orang mengirim quote atau arts, ada fitur semacam itu di friendster. Begitupun dengan facebook, baru setelah ponsel android merebak, banyak orang mulai membuka akun facebook dan segala keluh kesah kemudian ditumpahkan ke beranda.

Aku yang aktif bersosial media sejak 2007, benar-benar merasakan perbedaan tren di beranda, bahwa sosial media mulai menjadi "tempat sampah" untuk membuang keluh kesah, umpatan, dlsb. Hal itu membuatku merasa bersosial media tak asyik lagi.

Tren itu juga mulai bergeser dengan misal mengunggah makanan, minuman, atau pencapaian hidup. Seringkali itu terjadi, semacam pamer begitu.

Sekarang aku justru sangat jarang bikin status facebook, sesekali posting di instagram, dan lebih sering di story wa karena pemirsanya terbatas, atau dari circle yang kita kehendaki.

Kesepian dan butuh penghargaan?

Menurut beberapa penelitian, orang yang aktif sekali di sosial media berarti dia sedang kesepian di dunia nyata.

Mungkin banyak yang tidak percaya kalau saat itu aku sedang kesepian, menghabiskan waktu berjam-jam di warnet. Karena kesepian itu konteksnya luas, bukan hanya tidak punya teman. Mungkin saja saat itu aku kesepian, entah kesepian karena apa hingga sering sekali ke warnet.

Kesepian bisa jadi justru dari diri sendiri, ada inferiority, tidak adanya penghargaan atau pengakuan, maka sosial media sebagai etalase untuk mengakui betapa hebat dirinya, atau sekadar mengalihkan pikiran.

Konon, kesepian bisa membawa ke mental health problem. Sebuah keinginan untuk ingin terus diakui, meski yang mengakui dirinya sendiri.

Belum lagi yang mengunggah pencapaian demi pencapaian dalam karir dan pekerjaan. Wiuh, kadang-kadang aku mikir, kenapa belantara sosial media jadi sebegini ramainya ya?

Justru aku rindu bersosial media di zaman sekolah dulu, karena sepertinya mereka bersosial media dengan alamiah, apa adanya, tak banyak polesan-polesan atau pamer pencapaian.

Sosial media untuk bisnis

Sekarang, pergeseran kembali terjadi. Sosial media seperti facebook dan instagram misalnya, lebih diarahkan sebagai market place, untuk berbinis baik jasa atau barang.

Ada laman khususnya di facebook, bahkan profil instagram juga bisa dibuat profil bisnis.

Selama ini sosial media dijadikan media efektif terutama untuk propaganda, ujaran kebencian dan lain sebagainya, mungkin dengan ini pengelola ingin mengajak penggunanya : ayolah berbisnis, kembangkan diri, jangan ribut melulu.

Meski begitu forum-forum ilmiah juga cukup representatif. Pernah demi sebuah pembaharuan, aku melakukan unfriend besar-besaran hampir 50% teman yang tak kukenal atau yang sering bikin status tak bermanfaat.

Lalu aku add friend akun orang-orang yang berlatar akademisi, seniman, budayawan, jurnalis, aktivis sosial dan sebagainya, yang menurutku akan menyajikan postingan-postingan bermanfaat.

Sekarang, ketika membuka beranda facebook, langsung banyak ilmu atau perspektif baru yang kudapat, sangat bermanfaat, meski ya sesekali diselingi oleh jualan-jualan. Tak masalah, bukan?

Mungkin benar, orang kesepian akan lebih aktif bersosial media agar ia tak lagi merasa kesepian, atau justru akan tambah kesepian karena di sosial media pun ia tak mendapat tanggapan yang berarti. []

Ahmad Fahrizal Aziz


Cari tulisan berdasar topik