Cari tulisan berdasar topik

Sabtu, 17 Juli 2021

Cerita Lain dari Mengakrabi Sunyi. Buku yang Menghidupkan Relasi


-
Antologi puisi "Mengakrabi Sunyi" hanya sebuah buku layaknya buku-buku lain yang dicetak.

Seperti antologi cerpen Jejak-jejak Kota Kecil (JJKK. 2016), buku ini dicetak dengan modal awal. Meskipun dahulu juga banyak alternatif nyetak dengan modal kecil sistem PO dan semacamnya.

Namun, ini adalah "buku komunitas", perlakuannya harus beda jika dibanding buku individu. Antologi JJKK dicetak 100 eksemplar dan ludes begitu cepat. Antologi Mengakrabi Sunyi dicetak 250 eks dan sampai saat ini masih tersisa beberapa eksemplar.

Banyak yang menyebut antologi Mengakrabi Sunyi adalah produk rugi. Ya, jika dihitung dari jumlah penjualan. Namun sebagai "media komunikasi" sesungguhnya sangat berhasil.

Karena itu kita perlu ambil resiko mengeluarkan modal awal via pinjaman. Kita butuh dana 3,5 juta. Namanya pinjaman pasti nanti dikembalikan, bukan?

Lalu pinjamnya dari mana? Ya dari anggota FLP sendiri. Kita sebutnya investasi. Sekali lagi ini sangat beresiko, bagaimana jika penjualan tidak sesuai target? Siapa yang mau mengembalikan pinjamannya?

Ternyata benar. Dari segi penjualan, antologi Mengakrabi Sunyi jauh dari target. Bahkan bisa disebut rugi.

Namun, dana pinjaman sudah dikembalikan semua. Ya, dari sini mungkin banyak yang bingung, kok bisa?

Cerita pahit getir Mengakrabi Sunyi

Tanggal launching antologi Mengakrabi Sunyi sudah ditentukan ketika buku belum naik cetak.

Saya sudah ketar-ketir. Percetakan langganan selama ini tidak bisa dipastikan berapa lama naskah selesai cetak dan dikirim. Bisa seminggu, bisa sebulan, tergantung antrian.

Ternyata benar, saat launching, buku belum datang. Semua menanti informasi dengan cemas, padahal para pemesan buku sudah hadir dalam launching tersebut.

Beban jadi dobel. Karena urusan cetak dan keuangan saya yang pegang. Ini belum termasuk bagaimana nantinya jika target penjualan tidak terpenuhi?

Betapa serba salah dan sulitnya berada di posisi saat itu, meski semua tampak baik-baik saja.

Harga buku sangat murah

Sebenarnya, harga buku Mengakrabi Sunyi terbilang murah. Karena jumlah cetaknya 250 eksemplar, maka kita dapat harga murah: Rp14.000 per eksemplar. Dijual Rp35.000 ke agen dan dipasaran Rp45.000. Cukup terjangkau, bukan?

Padahal, kualitasnya tak kalah sama buku Filosofi Kopi karya Dee Lestari.

Meski demikian, target penjualan tidak terpenuhi. Seingat saya, baru terpenuhi sekitar 50% dari kebutuhan pengembalian modal.

Untungnya para pemberi pinjaman tidak ada yang protes, karena pemberi pinjaman sebagian juga penulis buku pada antologi ini.

Sampai kepengurusan berganti, target penjualan juga belum terpenuhi. Satu tahun lewat. Wah bagaimana ini?

Beberapa buku dibagikan gratis. Dari 250 eksemplar, target dijual hanya 200. 50 eksemplar dibagi-bagi ke endorser terutama. Namun faktanya tak kurang dari 100 buku dibagikan secara cuma-cuma.

Diplomasi buku pun berjalan

Salah satu pengurus kala itu mengkritik kenapa begitu royalnya bagi-bagi buku. Wajar karena ia menghitung nilai jual.

Namun kita lupa jika komunikasi itu perlu dan perlu juga ada "oleh-olehnya".

Sayangnya, sulit untuk menjelaskan ini, hal yang tak mudah dijelaskan ke banyak orang, termasuk pengurus.

Sehingga kadang muncul penyesalan kenapa dulu tidak diterbitkan saja lewat paket-paket P.O?

Itu memang bisa jadi alternatif, namun jika begitu mana mungkin bisa bagi-bagi buku?

Kita bisa kasih buku ke Perpustakaan Bung Karno, ke Perpustakaan Kota, ke seniman, tokoh literasi, pustakawan, pegiat hingga pejabat negara.

Apa karena buku tersebut?

Karena penjualan buku tak sesuai target, sementara itu berpotensi menjadi beban kepengurusan baru, maka sebaiknya lekas diselesaikan. Cari dana lewat jalan lain.

Apalagi, sebagai koordinator penerbitan dan yang mengurus uang, bebannya berlipat. Bisa jadi bad history.

Singkat cerita, kekurangan pengembalian buku tersebut bisa ditutup oleh "bantuan relasi", agak riskan saya menjelaskannya, tetapi ya itulah kenyataannya.

Kita menjalankan suatu program dan dari program itu keluar anggaran yang digunakan untuk menutupi keuangan buku.

Meski sebenarnya saya berharap kekurangan bisa ditutupi oleh penjualan buku, namun rasanya itu sulit, atau butuh waktu lama.

Karena itu, saya lebih suka mengartikan buku itu sebagai bentuk komunikasi ketimbang produk transaksi jual-beli.

Meski barangkali penerbitan Mengakrabi Sunyi menimbulkan trauma tersendiri bagi sebagian pengurus, sehingga penerbitan selanjutnya lebih memilih P.O.

Namun itu tak masalah, karena relasi sudah berjalan. Jika kita ukur dari itu, sebenarnya kita "untung besar" dari Mengakrabi Sunyi.

Sepanjang 2018 adalah tahun "komunikasi" paling intensif, yang sebagian bisa kita petik sekarang ini.

Saat keuangan buku akhirnya beres, saya bersyukur sambil membatin: sisa buku bisa bebas dibagi-bagikan dong?

Mengakrabi Sunyi punya banyak cerita bagi saya sebagai orang yang mengurus percetakannya. 

Belum termasuk cerita dari mereka yang sibuk mengkompilasi naskah, mengedit, membuat ilustrasi, layout, desain cover, book teaser dan sebagainya.

Buku ini sesungguhnya digarap dengan sangat serius. Tidak asal terbit. Meski butuh proses hampir setahun. 

Pemberi sambutan/endors dan pengantarnya pun juga tidak sembarang, misal Prolog ditulis Tengsoe Tjahjono.

Mengakrabi Sunyi adalah buku yang disengkuyung bersama dan kini memberikan energi cukup besar bagi komunitas. []

Blitar, 17 Juli 2021
Ahmad Fahrizal Aziz